Sempat Manyun Tapi Berakhir Kekaguman

Test Drive All New Daihatsu Terios


Probolinggo (otoplasa.com) – Apa yang bisa Anda harapkan dari kendaraan yang konsumsi bbm-nya 5,4 km perliter?
Tentu rasa kesal yang tidak berkesudahan betapa borosnya mobil tersebut.

Nah kondisi ini Otoplasa alami saat menguji All New Daihatsu Terios versi matic di padang pasir Bromo hingga ke Bukit Teletubbies. Demi mendapatkan torsi dan traksi maksimal di permukaan pasir yang sewaktu-waktu ‘menyimpan’ jebakan untuk kendaraan yang bukan berpenggerak 4×4, perlu kiat tersendiri.

Demi keamanan saat melewati turunan curam menuju lautan pasir Bromo, tuas transmisi sengaja Otoplasa tempatkan ke L. Di kabin deru mesin lumayan terdengar, sebagai efek engine brake untuk mengendalikan medium SUV supaya tidak meluncur deras di jalanan menurun.

Saat keempat roda sudah berpijak di hamparan pasir, Otoplasa kembali memainkan tuas ke posisi D2. Sungguh tenaga maupun torsi dari mesin berkode 2NR-VE 1.500 cc berdaya 104 PS/6000 rpm dengan torsi maksimal 136 Nm/4200 rpm bisa tergali sempurna. Segala hambatan berupa pasir hisap hingga genangan air berhasil dilalui.

Konsekuensi bermain di putaran rpm tinggi

Rata-rata konsumsi bbm versi manual

Perpindahan tuas transmisi dari L ke D2 atau sebaliknya, mau tak mau menjadikan konsumsi bbm lebih boros. Bayangkan saat keberangkatan dari Waru Sidoarjo menuju penginapan di Bromo, konsumsi bbm All New Terios yang Otoplasa tumpangi versi manual berkisar 13,3 km/liter. Tapi mengapa saat berpindah ke yang matic perbedaannya lumayan mengejutkan hingga 5,4 km perliter?

Sesungguhnya sangat wajar!
Ingat padang pasir Bromo bukan jalanan umum. Bila di jalan umum cukup andalkan posisi di D, maka secara otomatis deretan rasio gigi akan menyesuaikan kondisi jalan dengan pintar. Mulai putaran mesin hingga asupan bbm, akan diatur secara presisi hingga menjadikan konsumsinya lebih efektif.

Mengingat medan Bromo lumayan ekstrim, maka diperlukan tenaga dan torsi yang melimpah dan itu bisa tercapai di putaran mesin yang lebih tinggi. Intinya tak mungkin menerapkan ‘Eco Driving’!

Jadi jangan heran konsumsi bbm-nya akan melonjak sangat drastis. Kendati bensin jadi lebih boros, performa All New Terios tetap dapat diandalkan. Turunan hingga tanjakan curam, serta pasir berbisik yang siap menerkam, semuanya seakan bagai angin lalu.

Kembali Ke Siklus 13,5 km perliter

Konsumsi bbm usai PP Waru – Bromo – Waru

Usai melahap beragam tantangan Bromo dan sempat heran dengan konsumsi bbm-nya, Otoplasa masih penasaran. Perlu ada perbandingan saat perjalanan balik dari Bromo ke Waru.

Kali ini tak perlu memaksa mesin bermain di tuas transmisi L, melainkan cukup di D2 dan sekali-kali bermain di D3. Jalan menurun yang cenderung melandai menuju ke jalan utama Probolinggo – Surabaya, mulai mencerminkan tanda-tanda keiritan khas Daihatsu.

Pelan namun pasti, indikator dua digit angka digital konsumsi bbm mulai bereaksi. Dari 5,4 km/liter berubah secara dramatis ke 6,5 hingga ke 10,1 km/liter. Memasuki jalan utama propinsi, saatnya Otoplasa memindah tuas transmisi ke D.

Tiga garis hijau di speedometer mulai menyala bersamaan dengan lampu indikator ala daun. Bila mampu menjaga ritme indkator eco driving menyala selama mungkin, konsumsi bbm akan lebih irit. Terdeteksi teknologi dual VVT-i nya bekerja maksimal menjaga pola keiritan bbm. Putaran mesin mulai senyap karena perpindahan gigi transmisi otomatisnya bermain di 2.500 rpm. Kendati terasa aja jeda saat perpindahan gigi, namun itu masih normal.

Terkadang bila kondisi lalu-lintas mulai ‘terganggu’ dengan deretan truk-truk berukuran besar, Otoplasa kembali nakal bermain di tuas transmisi D2 dan D3. Jujur, butuh akselerasi maksimal demi mendapatkan putaran mesin yang lebih tinggi demi menyusul truk. Perpindahan tuas transmisi ala gaya manual ternyata sangat menyenangkan. Nafas panjang mesin Terios menjadi bukti bahwa mobil ini benar-benar asyik diajak berpetualang.

Bila jalanan mulai lenggang ala tol Pasuruan – Sidoarjo, pilihan posisi D adalah yang paling masuk akal. Puncaknya adalah konsumsi bbm 13,5 km perliter saat tiba di Waru.

Yang lebih mengagumkan, tangki masih menyisakan tiga bar pada indikator bbm. Jadi kondisi full tank saat keberangkatan hingga balik, hanya mengkonsumsi lima bar saja.

Kesimpulannya jangan ragu menjatuhkan pilihan kepada All New Terios yang terbukti irit bbm. Meski awalnya sempat manyun, itu merupakan kompensasi demi menundukkan medan ekstrim ala Bromo. Toh Anda pun tak selalu tiap pekan atau bulan pergi ke Bromo yang mempesona, karena masih ada wisata petualangan lain yang siap untuk didatangi.

“Bromo memang mengagumkan dengan segala tantangannya. Bersama All New Terios tantangan di sini bisa kita lewati,” bangga Budhy Lau, East Java Regional Head PT Astra International Daihatsu Sales Operation (DSO). (bom)

Berikut perbandingan konsumsi bbm Pertamax All New Terios

  • Waru – Penginapan Bromo (versi manual) 13,3 km/liter
  • Padang pasir Bromo dengan segala tantangannya (versi matic) 5,4 km/liter
  • Penginapan Bromo – Waru (versi matic) 13,5 km/liter

Test drive All New Terios

A post shared by Otoplasa.com (@otoplasa) on

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

[related_post themes="flat" id="4018"] Themes: text, flat