Otoplasa.com – Kabar mengejutkan datang dari Chery yang siap membangkitkan Freelander. Asal tahu saja model ikonik itu sejatinya produk dari Land Rover yang kini dihibahkan kepada pabrikan otomotif Tiongkok, namun tetap mengusung warisan Inggris.
Demikian dunia otomotif dikejutkan dengan kembalinya nama besar yang sempat disuntik mati pada 2015 silam. Freelander, SUV yang dulunya merupakan tulang punggung Land Rover, kini resmi terlahir kembali bukan sebagai model tunggal, melainkan sebagai merek elektrifikasi independen di bawah kendali kemitraan strategis Chery Jaguar Land Rover (CJLR).
Langkah berani ini menandai pergeseran peta kekuatan otomotif global. Freelander yang kita kenal dulu sebagai penjelajah tangguh asal Inggris, siap bertransformasi menjadi Chery Freelander yang mengusung teknologi mutakhir asal Tiongkok.

Alasan di Balik Perpindahan Garis Keturunan
Terungkap alasan dibalik perpindahan garis keturunan yang menimbulkan pertanyaan dari banyak penggemar fanatik Land Rover. Mereka bertanya-tanya, mengapa nama legendaris ini dihibahkan ke perusahaan Tiongkok?
Jawabannya terletak pada efisiensi dan kecepatan adaptasi. JLR saat ini sedang fokus pada strategi House of Brands yang memisahkan Range Rover, Defender, Discovery, dan Jaguar sebagai lini ultra-mewah.
Untuk mengisi celah pasar SUV listrik yang lebih masif dan kompetitif, JLR memutuskan untuk melisensikan nama Freelander kepada joint venture mereka, yakni Chery. Dengan menggunakan platform modular E0X milik Chery yang sudah teruji, Freelander bisa diproduksi lebih cepat dengan biaya yang lebih kompetitif tanpa merusak eksklusivitas merek Land Rover yang kini naik kasta.
Adrian Mardell, CEO JLR, dalam keterangannya menyebutkan bahwa kolaborasi ini adalah langkah strategis yang saling menguntungkan. “Kami menggabungkan warisan desain JLR yang tak tertandingi dengan teknologi kendaraan energi baru (NEV) dari Chery yang memimpin pasar. Ini adalah model kolaborasi baru untuk masa depan elektrifikasi,” ungkap Mardell.
Debut Global 31 Maret 2026
Sosok baru Chery Freelander tampil lebih gambot dan canggih. Dijadwalkan debut globalnya pada 31 Maret 2026. Berbeda dengan pendahulunya yang kompak, model pertama ini akan berwujud SUV bongsor dengan panjang lebih dari 5,1 meter dan konfigurasi tiga baris kursi (2+2+2).
Meski menggunakan jeroan teknologi Tiongkok, sentuhan desain Inggris tetap kental. Desainernya dipimpin langsung oleh studio JLR di Inggris, memastikan siluet boxy dan lampu LED pixel yang ikonik tetap membawa aura prestisius. Secara teknis, SUV ini akan hadir dalam varian Battery Electric Vehicle (BEV) dan Extended Range Electric Vehicle (EREV) yang mampu menghasilkan tenaga hingga 413 kW.
Freelander Versi Pahe
Tentu dapat ditebak, imbas produksi di Tiongkok, harganya bakal semakin kompetitif alias pahe (paket hemat). Meski spesifikasi resmi baru akan dibuka akhir bulan ini, para analis industri memprediksi Chery Freelander akan bermain di segmen premium namun tetap kompetitif. Berdasarkan penggunaan platform E0X yang juga digunakan oleh Exeed Exlantix, estimasi harga untuk pasar global diperkirakan berada di rentang 250.000 hingga 450.000 Yuan.
Jika dikonversikan ke dalam Rupiah, SUV mewah ini kemungkinan akan dibanderol mulai dari Rp550 juta hingga Rp980 jutaan (tergantung varian dan pajak negara tujuan). Harga ini memposisikannya sebagai penantang serius bagi Nio ES8 maupun Aito M7 di kelas SUV listrik bongsor.
Produksi Massal Pabrik CJLR di Changshu
Produksi massal akan dipusatkan di pabrik CJLR di Changshu yang telah mendapatkan investasi sebesar 3 miliar Yuan untuk transisi ke lini produksi elektrik. Menariknya, Chery Freelander tidak hanya akan dipasarkan di Tiongkok. Setelah peluncuran perdana, merek ini dijadwalkan segera merambah pasar internasional, dengan Timur Tengah sebagai target pertama sebelum menyasar wilayah global lainnya.
Bagi para penggemar, ini adalah babak baru yang menarik. Kita tidak lagi melihat Freelander sebagai sekadar adik kecil Discovery, melainkan sebagai pionir SUV cerdas yang memadukan jiwa petualang Eropa dengan kecerdasan teknologi Asia.
Dan yang pasti, penggemar fanatik Land Rover pun mendapatkan pilihan harga yang lebih terjangkau namun tetap mendapat warisan aristokrat dari negeri leluhurnya. (ton)









