Solusi Kurangi Impor BBM, CEO BYD Haka Auto Dorong Percepatan Elektrifikasi

Di Studium Generale Institut Teknologi Bandung (ITB)

Otoplasa.com – Ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar fosil menjadi tantangan besar bagi ketahanan energi nasional. Demi menciptakan solusi mengurangi impor bbm, CEO BYD Haka Auto mendorong percepatan elektrifikasi di Studium Generale Institut Teknologi Bandung (ITB).

Diketahui sektor transportasi tercatat sebagai penyumbang konsumsi bahan bakar fosil terbesar saat ini. Menanggapi hal ini, BYD Haka Auto menawarkan langkah strategis melalui percepatan ekosistem kendaraan listrik.

CEO BYD Haka Auto Indonesia, Hariyadi Kaimuddin, menegaskan pentingnya transisi energi dalam skala nasional. Hal tersebut ia sampaikan dihadapan 1000 mahasiswa ITB baru-baru ini. Dimana acara berlangsung luring dan daring.

Kendaraan Listrik Sebagai Strategi Nasional
Hariyadi menjelaskan bahwa kendaraan listrik (EV) adalah kunci kemandirian energi Indonesia. EV bukan sekadar alat transportasi ramah lingkungan bagi masyarakat modern. Kendaraan listrik merupakan bagian dari agenda besar pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

“EV bukan hanya solusi transportasi, tetapi bagian dari strategi nasional,” ujar Hariyadi Kaimuddin.

Beliau menambahkan bahwa EV memperkuat ketahanan energi dan mendorong ekonomi hijau.

Impor BBM CEO BYD Haka Auto
CEO BYD Haka Auto Menjelaskan Percepatan Elektrifikasi dan Energi Terbarukan Solusi Kurangi Impor BBM

Memutus Rantai Impor BBM
Tanpa elektrifikasi, kebutuhan energi berbasis impor akan terus melonjak tajam. Pertumbuhan jumlah kendaraan konvensional memicu peningkatan konsumsi bahan bakar minyak setiap tahunnya. Kehadiran teknologi ramah lingkungan ini menjadi solusi BYD mengurangi impor BBM secara signifikan.

Pemanfaatan energi domestik menjadi fokus utama dalam pemaparan Hariyadi di hadapan mahasiswa. Saat ini, sistem kelistrikan nasional masih didominasi oleh sumber energi fosil domestik. Namun, masa depan energi Indonesia terletak pada sumber energi baru terbarukan.

“Jika kita beralih ke listrik berbasis energi domestik, ketahanan energi Indonesia akan jauh lebih kuat,” jelasnya.

Penggunaan tenaga air, panas bumi, dan surya akan menggantikan peran minyak bumi impor.

Membangun Ekosistem dan Ekonomi Global
Transformasi menuju EV berpotensi memperkuat struktur industri otomotif nasional secara menyeluruh. Industri ini berkontribusi besar terhadap PDB, ekspor, dan penyerapan tenaga kerja. Hariyadi menekankan bahwa kesiapan ekosistem adalah syarat mutlak keberhasilan adopsi EV.

Ekosistem ini mencakup infrastruktur pengisian daya, rantai pasok baterai, hingga layanan purna jual. Kolaborasi antara pemerintah, industri, dan akademisi diperlukan untuk menciptakan daya saing global. Hal ini menjadi solusi BYD mengurangi impor BBM melalui penguatan industri dalam negeri.

Ekspansi Masif Haka Auto
Haka Auto menunjukkan komitmen nyata dalam mendukung percepatan elektrifikasi di tanah air. Hingga tahun 2026, Haka Auto telah mengoperasionalkan 15 outlet BYD di Indonesia. Selain itu, terdapat 2 outlet Denza yang melayani segmen kendaraan listrik premium.

Pada Semester I 2026, Haka Auto berencana meresmikan beberapa dealer baru lagi. Ekspansi ini bertujuan mendekatkan akses layanan penjualan dan purna jual kepada konsumen. Dengan jaringan yang luas, masyarakat semakin mudah beralih ke kendaraan listrik yang efisien.

Hariyadi juga mengajak generasi muda untuk aktif mengembangkan solusi inovatif di sektor energi. “Kita tidak bisa hanya menunggu perubahan, tetapi harus menjadi bagian dari perubahan itu sendiri,” tegasnya. Dukungan SDM kompeten sangat dibutuhkan untuk memimpin industri masa depan ini. (boi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *