otoplasa.com – Tetap optimis, demikian yang Otoplasa tangkap ketika masyarakat Wuhan menyambut kebebasannya dari lockdown yang diterapkan Pemerintah Tiogkok. Usai berada di rumah selama kurang lebih tiga bulan, akhirnya masyarakat pun berbondong-bondong kembali menikmati masa-masa normal seperti dulu.
Yang menarik berkaca dari Wuhan, kini masyarakat di sana langsung memburu kendaraan baru. Alasannya sederhana, takut resiko tertular virus corona bila menaiki kendaraan umum.
Itulah gambaran kota yang baru saja roda perekonomiannya menggeliat. Showroom-showroom mobil baru mulai ramai. Bayangan ketakutan kembali tertular seakan menjadi berkah bagi para tenaga penjual. Alhasil pembelian mobil baru di Wuhan langsung melejit.
“Saya cukup terkejut dengan kondisi ini. Setelah dua bulan di karantina, penjualan langsung naik. Padahal saya kira penjualan akan membeku sementara,” kata Zhang Jiaqi, tenaga penjual Audi di Wuchang, Wuhan.
Wabah covid-19 memang membikin penjualan kendaraan baru turun drastis. Fenomena kebangkitan geliat pembelian mobil baru yang terjadi di Wuhan bisa menjadi bayangan ketika suatu saat nanti pandemi ini hilang di seluruh dunia. Banyak orang akan peduli dengan kesehatannya dan imbasnya bakal lebih hati-hati. Salah satu solusinya yaitu dengan membeli mobil baru supaya tidak berbaur dengan pengguna angkutan umum.
Seperti penjelasan Pan Fei, Marketing Director Dealer Audi Wuchang. Berkat wabah corona banyak konsumen yang ingin membeli kendaraan. Mereka yakin kendaraan pribadi lebih aman dibandingkan transportasi umum. Saat wabah covid-19 merebak, catatan penjualan kendaraan di Cina turun sebesar 79 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Untunglah kondisi luar biasa ini diyakini sementara dan tidak akan berdampak jangka panjang.
Bila China turun 79 persen, maka di Indonesia juga sama. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo) baru saja merevisi target penjualan pada 2020. Artinya penjualan kendaraan akan mencapai 600 ribuan unit atau turun 40%. Tak mengherankan banyak APM yang menggelontorkan beragam bonus demi menarik minat konsumen. Hanya saja konsekuensinya kepada pembelian secara kredit, dimana uang muka saat ini minimal mencapai 50 persen. (fis/14-04-2020)










