Nicolo Bulega Akui Perbedaan Pengereman Ban Pirelli & Michelin

Penyebab Jatuh di Sprint Race MotoGP

Otoplasa.com – Nicolo Bulega, pembalap pengganti Marc Marquez di ajang MotoGP Portugal mengakui perbedaan gaya pengereman dengan ban berbeda antara Pirelli dan Michelin. Bila Superbike dengan Pirelli bisa agresif, namun beda jauh bersama ban Michelin di MotoGP.

Atas dasar perbedaan dan gaya pengeraman itulah menjadi penyebab dia jatuh di Sprint Race MotoGP. Pembalap Italia tersebut belajar banyak pengalaman berharga. Masih mempertahankan gaya balap Superbike saat balapan di MotoGP adalah salah besar.

Dimana Sabtu menjadi hari kedua bagi Bulega tampil sebagai pembalap resmi Ducati Lenovo Team di kelas MotoGP. Ia memulai hari dengan hasil positif, menempati posisi ke-13 pada sesi latihan bebas kedua yang diguyur hujan. Namun, pada sesi kualifikasi, Bulega harus puas di posisi ke-18.

Kesulitan Pertama di MotoGP
Dalam Sprint Race sore hari, Bulega mengalami kesulitan pertamanya mengendarai motor MotoGP. Saat berusaha mengejar Franco Morbidelli, ia kehilangan kendali dan terjatuh ke area gravel.

Runner-up World Superbike (WSBK) itu menjelaskan, dirinya mencoba melakukan pengereman dengan gaya Superbike yang agresif. Sayangnya, hal tersebut membuat bagian depan motornya kehilangan cengkeraman.

“Hari ini saya belum bisa menyatukan semua hal, tapi ada sisi positif,” ujar Bulega kepada Sky Italia.

“Saya kesulitan dengan pengereman. Di Superbike dengan ban Pirelli, Anda bisa agresif dan langsung menghentikan motor. Namun dengan ban Michelin di MotoGP, Anda tidak bisa agresif di awal pengereman. Harus menekan rem lebih lambat.”

Adaptasi Ban Keras
Bulega juga menambahkan, ia masih beradaptasi dengan karakter ban depan keras (hard front tyre) yang digunakan di MotoGP. “Saya mencoba memahami cara kerja ban tersebut. Saya sempat menyalip beberapa pembalap dan berusaha mengejar Morbidelli. Tapi saya terlalu keras menekan rem dan kehilangan grip bagian depan ketika motor masih tegak,” jelasnya.

Menurutnya, perbedaan terbesar antara MotoGP dan Superbike justru ada pada teknik pengereman. “Gaya pengereman di MotoGP benar-benar berlawanan dengan Superbike. Ini hal tersulit bagi saya sekarang,” pungkas Bulega.

Tantangan Tersendiri
Musim 2025 menjadi awal perjalanan baru bagi Nicolo Bulega di MotoGP setelah tampil impresif di WSBK musim sebelumnya. Adaptasi terhadap motor Ducati Desmosedici GP serta ban Michelin menjadi tantangan tersendiri bagi pembalap muda Italia tersebut.

Jika mampu menyesuaikan diri, Bulega berpotensi menjadi rookie berbahaya di MotoGP 2025. Namun, insiden di Portimao menjadi pengingat bahwa perbedaan karakter antara Superbike dan MotoGP tak bisa diremehkan. (boi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *