Otoplasa.com – Semakin memanasnya konflik di Timur Tengah berdampak pada gelaran balap bergengsi sejagat. Mulai dari MotoGP di Qatar dan F1 Bahrain, keduanya berpeluang besar batal digelar. Liberty Media selaku pemegang kendali dua tontonan tersebut sedang berupaya keras mencari sirkuit pengganti.
Awan mendung kini menyelimuti kalender balap internasional di awal musim 2026. Ketegangan konflik yang kian eskalatif di kawasan Timur Tengah benar-benar mengancam keberlangsungan seri-seri pembuka kejuaraan dunia balap motor dan mobil.
Sirkuit Internasional Lusail yang dijadwalkan menggelar MotoGP Qatar pada 12 April mendatang berada di ujung tanduk. CEO Dorna Sports, Carmelo Ezpeleta, secara terbuka mengakui bahwa peluang untuk balapan di Qatar sangatlah tipis mengingat kondisi keamanan saat ini.
Sinyal Pesimis di Lusail
Berbicara dalam sebuah acara sponsor di Spanyol, Ezpeleta memberikan sinyal pesimisme yang kuat bagi para penggemar yang telah menanti aksi di bawah lampu sorot Lusail. “Sangat sulit. Kami harus menunggu. Saya tidak bisa mengatakan sekarang bahwa kami pasti batal pergi, tetapi kecil kemungkinan kami akan berangkat ke Qatar pada 12 April,” ujar Ezpeleta kepada media.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Jadwal MotoGP Qatar bertepatan dengan akhir pekan F1 GP Bahrain. Mengingat kedua sirkuit ini hanya berjarak sekitar 120 kilometer, risiko logistik dan keamanan menjadi pertimbangan utama bagi Liberty Media, yang kini menaungi kedua ajang balap tersebut.
F1 Siapkan Opsi Double-Header di Suzuka
Jika balapan di Teluk Persia benar-benar harus dibatalkan, Formula 1 sudah mulai merancang skenario darurat demi tetap menjaga jumlah seri dalam satu musim. Salah satu opsi paling logis adalah menggelar balapan ganda atau Double-Header di Jepang.
Jurnalis veteran Roger Benoit melaporkan bahwa Sirkuit Suzuka bisa menjadi penyelamat. Karena seri ketiga sudah dijadwalkan di sana pada 29 Maret, mengadakan balapan kedua satu minggu setelahnya akan memangkas biaya logistik secara signifikan daripada harus memindahkan seluruh peralatan tim kembali ke Eropa secara terburu-buru.
Alternatif Sirkuit Eropa: Portimao vs Hockenheim
Mantan pembalap F1, Ralf Schumacher, turut memberikan pandangannya terkait potensi sirkuit pengganti. Menurutnya, faktor cuaca awal tahun akan mendepak sirkuit-sirkuit di Jerman dari daftar.
“Nurburgring tidak mungkin karena risiko salju. Mungkin Hockenheimring bisa, tapi Portimao (Portugal) dan Paul Ricard (Prancis) jauh lebih masuk akal untuk periode waktu ini,” ungkap Schumacher.
Fokus Utama: Keselamatan dan Logistik
Selain masalah jadwal, krisis ini telah berdampak pada operasional tim. Di Australia, FIA terpaksa mencabut aturan jam malam (curfew) karena keterlambatan pengiriman kargo akibat gangguan rute penerbangan.
Pembalap Alpine, Pierre Gasly, menegaskan bahwa aspek kemanusiaan dan keselamatan harus di atas segalanya. “Sangat sulit memahami apa yang terjadi saat ini. Saya harap situasi membaik, namun pada akhirnya F1 akan mengambil keputusan terbaik untuk keselamatan kita semua,” tutupnya.
Keputusan final mengenai nasib seri Qatar dan Bahrain diharapkan keluar dalam waktu dekat, mengingat peralatan Formula 2 dan F3 sudah dijadwalkan menetap di Bahrain untuk sesi tes pramusim. (boi)









