Computer Self Efficacy Tanpa Paham Siklus Bisnis Industri Otomotif, Bisakah Akuntan Menghasilkan Informasi Yang Akurat?

Otoplasa.com – Industri otomotif adalah industri yang aktivitas bisnisnya merancang, mengembangkan, memproduksi, memasarkan hingga menjual kendaraan bermotor. Produk yang dihasilkan beragam, mulai dari pembuatan atau perakitan kendaraan roda empat dan roda dua, truk, bus serta pembuatan suku cadang dan berbagai komponennya. Industri ini tidaklah hanya sekedar tentang produksi segala macam kendaraan dan suku cadang. Perkembangan zaman membuat industri ini semakin maju pesat, mulai dari perubahan cara kendaraan diproduksi bahkan hingga desain yang semakin beragam. Tidak hanya itu, bahkan saat ini terjadi perubahan dari sistem transmisi manual ke otomatis, perubahan dari bahan bakar berubah menjadi tenaga listrik. Perubahan-perubahan tersebut terjadi karena adanya pengaruh dari perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat.

Kerumitan industri ini dapat dilihat dari ruang lingkupnya, yaitu tidak hanya sekedar memproduksi kendaraan tapi juga suku cadang dan komponennya tapi juga menangani masalah pendistribusian dan penjualan. Industri ini juga memberikan layanan servis dan layanan purna jual kepada pelanggan. Perkembangan teknologi dan berbagai inovasi membuat industri ini semakin kompetitif, semakin memegang peranan penting dalam perekonomian dan sosial. Tidak hanya berpengaruh pada produksi, teknologi dan inovasi juga membawa perubahan dalam sistem akuntansi komputerisasi yang makin kompleks pula guna mendukung seluruh aktivitas keuangan sehingga mampu menyajikan informasi yang bermanfaat bagi pengguna laporan keuangan.

Akuntan dituntut pula untuk mengikuti perkembangan teknologi dalam melaksanakan tugas-tugasnya dalam sebuah industri. Mereka harus memiliki kepercayaan diri dalam menggunakan komputer atau yang biasa dikenal dengan computer self efficacy. Berbagai penelitian menyebutkan bahwa computer self efficacy dapat menjadi faktor utama yang mempengaruhi minat seseorang dalam menggunakan teknologi, khususnya dalam hal ini adalah akuntansi berbasis komputer. Pengertian computer self efficacy berdasarkan berbagai literasi mengacu pada keyakinan seseorang terhadap kemampuannya dalam mengoperasikan komputer dan teknologi. Dihasilkan bahwa tingkat self efficacy seseorang dapat mendorong ketertarikan dan keberanian dalam menghadapi tantangan teknologi.

Terdapat dua karakteristik tingkatan self efficacy, yaitu tingkat tinggi dan tingkat rendah. Tingkat tinggi dapat dilihat dengan memiliki percaya diri yang tinggi dan tidak mudah menyerah ketika kendala ada pada hadapan mereka. Keyakinan ini dapat mempengaruhi seseorang untuk terus mencoba hal-hal baru, terus belajar dan bertahan hingga merasakan kenyamanan saat mengoperasikannya. Saat berada pada tingkat rendah, dapat dilihat dengan mudahnya cemas saat kendala dihadapi hingga muncul rasa takut salah yang berlebihan.

Jika seorang akuntan memiliki computer self efficacy yang tinggi, dapat menentukan tingkat keberhasilannya dalam menguasai program baru maupun program yang tingkat kesulitannya tinggi karena mereka memiliki minat dan motivasi dalam diri untuk memanfaatkan segala perangkat digital secara optimal. Berbeda dengan akuntan yang memiliki computer self efficacy rendah, mereka akan cenderung lebih mudah cemas dan takut yang berlebihan. Sehingga mereka tidak dapat menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik karena ketidakmampuannya dalam mengoperasikan perangkat lunak maupun keras. Namun apakah cukup hanya dengan computer self efficacy yang tinggi akuntan dapat menghasilkan informasi yang akurat?

Siklus bisnis industri otomotif tidaklah sederhana, banyaknya lini yang terlibat membuat sistem akuntansinya pun juga tidak bisa diremehkan. Seperti yang sebelumnya dijelaskan, industri ini tidak hanya sekedar mendesain, merakit dan menjual. Ada tahapan-tahapan dalam proses produksi hingga siap dipasarkan yang harus tercatat dengan rapi dan informatif secara akuntansi. Digitalisasi dapat mengganti peran auditor dalam mencatat seluruh transaksi keuangan yang terjadi dalam sebuah industri sebanyak apapun jumlah transaksinya. Self efficacy yang tinggi seorang auditor dalam mengoperasikan komputer akan menjamin data dimasukkan dengan benar secara teknis. Namun terdapat peran-peran auditor yang tidak dapat digantikan oleh canggihnya teknologi.

Akuntansi berbasis komputer dapat meringankan tugas auditor dan menghasilkan laporan lebih cepat dan balance, namun apakah dapat diyakinkan bahwa output tersebut wajar sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku? Sistem tersebut tidak akan bisa memvalidasi dan memverifikasi kebenaran data sedangkan auditor dapat memeriksa kebenaran input dan output dari angka yang dihasilkan oleh komputer dengan cara membandingkannya dengan bukti fisik. Tanpa informasi yang diperoleh auditor, sistem tidak akan dapat mengatur perhitungan biaya produksi yang rumit. Sehingga auditor perlu untuk memahami perhitungan akuntansi biaya dengan berbagai kerumitannya. Auditor juga harus memiliki kemampuan dalam manajemen biaya, menghitung alokasi biaya overhead, menilai persediaan dan komponen-komponen lain yang terkait dalam menghasilkan laporan keuangan sehingga ia dapat menganalisis kewajaran output yang dihasilkan. Ketika auditor mampu menganalisis dengan baik maka dapat menggunakan analisis tersebut untuk menyusun rencana strategis yang memberikan dampak kemajuan industri.

Kesimpulannya adalah bahwa seorang akuntan tidak hanya bisa mengandalkan kepercayaan dirinya dalam menggunakan komputer (computer self efficacy) untuk dapat menghasilkan laporan keuangan yang akurat, namun mereka juga harus memahami siklus bisnis dari industri otomotif tersebut. Tanpa memahami siklus bisnis tempatnya ia bekerja, sangat mungkin terjadi seorang akuntan bisa gagal dalam mendeteksi kesalahan-kesalahan yang mungkin adanya salah saji, kesalahan dalam menilai harga pokok penjualan sehingga pada akhirnya terjadi kesalahan dalam menyajikan laporan keuangan. Computer self efficacy memiliki peran hanya sebatas kepercayaan diri yang tinggi dalam mengoperasikan komputer dan belum tentu tingginya self efficacy memiliki pemahaman terhadap siklus bisnis industri tempat auditor bekerja. Oleh karena itu, dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih seorang akuntan tidak hanya memiliki tingkat computer self efficacy yang tinggi, namun tetap memiliki kompetensi di bidang akuntansi dengan berbagai jenis industri yang ditekuninya.

 

Daftar Pustaka:

Mahabbah, N. dan Wirnaningsih, S. 2024. Pengaruh Computer Assited Audit Techniques (CAATs), Computer Self-Efficacy (CSE), Etika Profesi Terhadap Kinerja Auditor. JIAI (Jurnal Ilmiah Akuntansi Indonesia) Vol. 9, No. 2, Oktober.

Miranda, G. dan Kurniawati, I. 2024. Pengaruh Penggunaan ATLAS, Computer Selft-Efficacy, Kompetensi, dan Profesionalisme Terhadap Kinerja Auditor. Jurnal Manajemen Bisnis dan Keuangan, Vol. 5, No. 2, Oktober, Hal. 273 – 284.

Wicaksono, A., dkk. 2024. Pengaruh Computer Anxiety dan Computer Self Efficacy Terhadap Minat Mahasiswa Akuntansi Univeristas Nahdlatul Ulama Sidoarjo Menggunakan Software Akuntansi. Measurement: Jurnal Akuntansi Vol. 18, No. 2: 360 – 370, Desember.

Penulis:

Emi Kusmaeni, S.E., M.Ak. adalah

Dosen tetap STIESIA Surabaya pada Program Studi D3 – Akuntansi sejak tahun 2010.

Selain mengajar beliau juga aktif dalam kegiatan Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *