otoplasa.com – Upaya penyelamatan dini Maverick Vinales dari motor Yamaha YZR-M1 akibat kerusakan pada sistem pengereman, masih meninggalkan cerita yang menarik untuk dikupas. Bagi Otoplasa kejadian ini seperti sebuah lawakan yang nyaris lucu dari tim pabrikan sekaliber Yamaha.

Mengapa bisa begitu?
Dari seluruh kontestan peserta MotoGP Styria akhir pekan lalu, FIM memiliki data siapa saja motor tercepat dan terpelan. Paling kencang hingga menyentuh kecepatan 320,4 km/jam diraih Andrea Dovizioso bersama Ducati. Sementara motor terpelan dan semuanya didominasi oleh Yamaha, yakni masing-masing Franco Morbidelli dan Vinales dengan raihan 309,4 km/jam, serta Valentino Rossi dan Fabio Quartararo yang mencapai 310,3 km/jam.
Nah kelucuannya mulai terungkap dengan aksi Vinales yang melompat dari motor menjelang tikungan 1, hingga menyebabkan kebakaran pada Yamaha M1. Logikanya adalah bagaimana motor terpelan harus mengalami kerusakan sistem pengereman di roda depan?
Idealnya jika kita menganalisa, motor dengan kecepatan paling tinggi itulah yang seharusnya membikin sistem pengereman bekerja lebih berat dan berpotensi mengalami kerusakan lebih cepat. Namun beragam hukum fisika MotoGP Styria benar-benar diabaikan oleh Vinales dan kru mekanik Yamaha.

Baca juga: https://otoplasa.com/baju-balap-alpinestars-sukses-lindungi-maverick-vinales/
Disaat ketiga pembalap Yamaha memilih perangkat sistem pengereman yang telah diupgrade oleh Brembo, justru Vinales satu-satunya yang masih yakin untuk memakai versi standar. Alhasil dengan segala pilihannya, akhirnya dia harus menerima resikonya sebagai pembalap yang gagal finish akibat kendala sistem pengereman.
Awalnya karena Vinales ingin memanfaatkan performa motornya (yang jelas kalah kecepatan puncak) dengan menyiasati late braking untuk bisa bersaing dengan motor lain yang lebih cepat. Di saat motor lain melaju di trek lurus Red Bull Ring lebih kencang, maka bisa ditebak motor tersebut akan lebih dulu melakukan pengereman. Inilah strategi yang berupaya dilakukan oleh Vinales dengan melakukan pengereman telat menjelang tikungan. Konsekuensinya maka diperlukan sistem pengereman yang lebih kuat dan akurat.
Penerapan strategi ini memang efektif untuk melawan motor-motor yang buas di trek lurus, namun hanya bertahan di beberapa lap saja jika sistem pengeremannya tak mumpuni. Terbukti karena tak mau upgrade Brembo terbaru, lama-kelamaan sistem pengereman di motor Vinales semakin memanas hingga mengakibatkannya terlepas, karena tak kuat lagi menahan beban motor yang dipaksa sedemikian rupa.
Akhirnya kelucuan polah pemilik nomor start 12 ini pun terjawab. (anto/27-08-2020)









