Otoplasa.com – Belum genap satu musim resmi berlaga di Formula 1, ‘Audi’ sudah berani menyentil dominasi dan citra Ferrari, tim legendaris yang telah eksis di ajang balap jet darat sejak era 1950-an. Serangan ini datang dari sponsor utama Audi, yakni Revolut!
Revolut bukan mengkritik soal performa di lintasan, melainkan urusan desain mobil dan strategi sponsor, area yang selama ini dianggap sakral bagi tim berjuluk Kuda Jingkrak itu. Sindiran pedas datang dari Antoine Le Nel, Chief Marketing Officer (CMO) Revolut, sponsor utama Audi di Formula 1. Ia secara terbuka menilai livery Ferrari musim ini tidak mencerminkan desain yang baik, menyusul masuknya Hewlett-Packard (HP) sebagai sponsor titel.
“Tanpa bermaksud menyinggung, menurut saya apa yang dilakukan HP dan Ferrari terhadap mobil mereka bukan desain yang bagus,” ujar Antoine Le Nel saat diwawancarai Business of Sport.
“Bagaimana mungkin Anda menempatkan warna biru di atas mobil merah? Itu tidak bagus dari perspektif desain.”

Audi vs Ferrari: Pertarungan Identitas Merek
Pernyataan tersebut langsung menjadi sorotan, mengingat Ferrari dikenal sangat menjaga identitas visual merah ikoniknya selama puluhan tahun di Formula 1. Namun bagi Revolut, kecocokan desain dan identitas merek adalah harga mati.
Le Nel menegaskan, keputusan memilih Audi sebagai mitra utama di F1 bukan terjadi secara kebetulan. “Audi dengan cepat menjadi pilihan favorit kami,” kata Le Nel.
“Dari sudut pandang merek, Audi itu premium tapi tetap bisa dijangkau. Ferrari sangat premium, Aston Martin premium, McLaren juga premium. Tapi apakah Anda bisa benar-benar merasa dekat dengan Ferrari? Itu berbeda.”
Menurutnya, Audi menawarkan konsep accessible luxury yang selaras dengan karakter Revolut sebagai perusahaan teknologi finansial modern. “Audi adalah kemewahan yang bisa diakses dalam banyak hal. Itulah yang membuatnya terasa sangat cocok dengan Revolut,” ujarnya.
Audi Berani Bangun Semuanya Sendiri di F1
Tak hanya soal desain, narasi besar Audi di Formula 1 juga menjadi faktor krusial bagi Revolut. Pabrikan asal Jerman tersebut resmi masuk F1 dengan mengakuisisi tim Sauber, sekaligus mengembangkan sendiri sasis dan unit tenaga (power unit) tanpa bergantung pada pabrikan lain.
“Narasi itu sangat penting,” tegas Le Nel.
“Revolut hadir untuk mendisrupsi dunia perbankan dan mengalahkan para pemain lama. Dan Audi melakukan hal yang sama di Formula 1.”
Ia bahkan membandingkan Audi dengan tim pendatang baru lain seperti Cadillac, yang memilih jalur lebih instan. “Audi masuk ke olahraga yang bisa dibilang paling sulit di dunia saat ini. Mereka memulai dari nol dan membangun semuanya sendiri,” jelasnya.
“Bukan seperti Cadillac yang membeli sebagian besar komponen. Audi membuat sasis, mesin, gearbox, power unit, semuanya dikerjakan sendiri.”

Revolut dan Audi: Sama-Sama Penantang Status Quo
Bagi Revolut, filosofi Audi di Formula 1 mencerminkan perjalanan perusahaan mereka sendiri. “Sama seperti Revolut,” ujar Le Nel.
“Kami membangun semuanya sendiri dari bawah. Dari nol, lalu tumbuh. Dan itulah yang dilakukan Audi.”
Masuknya Audi ke Formula 1 bukan sekadar menambah jumlah peserta, tetapi juga mengguncang tatanan lama, termasuk berani mengkritik Ferrari, ikon F1 yang telah bertahan lebih dari tujuh dekade.
Dengan narasi disruptif, keberanian mengusik raksasa lama, serta pendekatan desain yang tegas, rekanan bisnis Audi ini tampaknya tak ingin sekadar numpang lewat di Formula 1. Bagi Ferrari, ini bisa menjadi sinyal awal bahwa era kebal kritik telah berakhir, bahkan sebelum lampu start benar-benar padam. (boi)









