Otoplasa.com – Badai menerpa duo tim Formula 1 Red Bull dan Aston Martin di Gurun Sakhir. Alih-alih tampil mengesankan, justru terpukul masalah reliabilitas di tes Bahrain.
Era baru F1 tahun 2026 yang membawa regulasi teknis radikal ternyata langsung memakan korban di sesi tes pramusim Bahrain. Dua raksasa yang paling diantisipasi, Red Bull Racing dan Aston Martin, justru terjerembap dalam masalah mekanis serius yang menghambat program pengembangan mereka.
Meskipun didukung sumber daya finansial yang masif dan fasilitas mutakhir, transisi menuju unit daya (PU) dan regulasi aerodinamika terbaru terbukti menjadi tantangan yang lebih besar dari yang diperkirakan.

Red Bull Powertrains Alami Kebocoran Air
Di kubu langganan juara, Red Bull Racing harus menghadapi kenyataan pahit pada pagi pertama tes kedua di Bahrain. Pembalap muda mereka, Isack Hadjar, lebih banyak menghabiskan waktu di garasi daripada di lintasan akibat kebocoran air pada unit daya Red Bull Powertrains (RBPT) di sasis RB22 miliknya.
Hingga berita ini diturunkan, Hadjar hanya mampu melahap 13 lap sebelum tim mekanik membongkar bagian belakang mobil untuk perbaikan menyeluruh. Hilangnya waktu lintasan ini krusial, mengingat Red Bull kini memproduksi mesin mereka sendiri secara mandiri tanpa kemitraan teknis penuh dari Honda seperti tahun-tahun sebelumnya.
Teka-teki Mesin Honda di Aston Martin
Kondisi tak jauh berbeda dialami Aston Martin. Fernando Alonso hanya mampu mencatatkan 28 lap dalam tiga jam pertama sesi pagi setelah mobilnya mengalami kendala mesin. Ketegangan terlihat jelas di garasi tim yang berbasis di Silverstone tersebut saat alat borescope (kamera inspeksi internal) dimasukkan ke dalam jantung pacu Honda di mobil balap berkode AMR26.
Masalah ini menjadi pukulan telak mengingat ekspektasi tinggi terhadap kolaborasi eksklusif Aston Martin dan Honda di 2026. Ditambah lagi, ini adalah mobil pertama hasil sentuhan tangan dingin Adrian Newey sejak hengkang dari Red Bull pada 2024.
Mengapa Tim Kaya Kehilangan Momentum?
Pertanyaan besarnya adalah bagaimana tim dengan sumber daya tak terbatas bisa tertinggal. Analisa menyebutkan bahwa:
1. Kompleksitas Regulasi 2026
Aturan baru menuntut keseimbangan antara tenaga listrik yang lebih besar dan aerodinamika aktif. Red Bull, yang baru pertama kali membangun mesin sendiri, menghadapi kurva pembelajaran yang sangat terjal.
2. Masalah Integrasi
Bagi Aston Martin, menyatukan filosofi desain Newey dengan dimensi unit daya Honda yang baru membutuhkan sinkronisasi yang sempurna. Tes pramusim di Barcelona dan Bahrain menunjukkan bahwa integrasi ini belum mencapai titik optimal.
3. Defisit Kecepatan
Lance Stroll secara jujur mengakui bahwa timnya perlu menemukan tambahan empat detik agar bisa kompetitif.
Mungkinkah Ini Hanya Sandbagging?
Di tengah kekhawatiran para penggemar, legenda F1 Juan Pablo Montoya memiliki sudut pandang berbeda. Ia menduga Adrian Newey sengaja menyembunyikan kekuatan asli AMR26, sebuah taktik yang dikenal dengan istilah sandbagging.
“Melihat semua mobil hampir mirip, itu berarti entah tidak ada yang paham regulasi ini, atau semua orang sedang melakukan sandbagging karena mereka telah menemukan sesuatu yang luar biasa,” ujar Montoya kepada Vision4Sport.
Montoya, yang pernah bekerja langsung dengan Newey, menyebut sang desainer jenius tersebut sebagai sosok yang tidak pernah puas. “Adrian Newey itu orang yang selalu pesimis dengan apa yang dia capai! Sangat sulit menilai kinerjanya. Adrian mungkin akan bilang semuanya oke, tapi dia tidak pernah merasa puas. Bahkan saat membangun Red Bull yang mendominasi beberapa tahun lalu, dia tetap merasa mobilnya belum cukup bagus. Dia tidak akan mengeluarkan paket (aerodinamika) yang sebenarnya sebelum seri pembuka di Melbourne.”

Jalan Terjal Menuju Melbourne
Selain dua raksasa tersebut, tim Cadillac juga mengalami masa sulit lewat Sergio Perez yang hanya mampu melakukan dua lap di dua jam pertama sebelum akhirnya perlahan bangkit. Namun, Perez masih tertinggal jauh lebih dari 7 detik dari Charles Leclerc (Ferrari) yang sementara memimpin klasemen waktu.
Dengan pembukaan musim di GP Australia pada 8 Maret mendatang, waktu bagi Red Bull dan Aston Martin untuk membenahi reliabilitas mesin mereka semakin menipis. Apakah ini awal dari runtuhnya dominasi mereka, atau sekadar trik cerdas dari sang maestro Adrian Newey?
Kita tunggu saja. (ton)









