Bos Honda Akui Ancaman Nyata Pabrikan Tiongkok

Peta Persaingan Global Alami Titik Balik

Otoplasa.com – Honda yang terkenal dengan beragam inovasi dan sukses sebagai pabrikan otomotif terkemuka, nyatanya memiliki kekhawatiran besar. Terutama terhadap sepak terjang pabrikan Tiongkok yang mampu merubah titik balik peta persaingan global.

Industri otomotif global sedang mengalami hal krusial. Bos Honda baru saja melontarkan pernyataan mengejutkan terkait peta persaingan global.

Presiden dan CEO Honda, Toshihiro Mibe, memberikan pengakuan jujur yang memicu alarm kewaspadaan tinggi. Hal ini terjadi usai dirinya melakukan kunjungan kerja ke sebuah pabrik pemasok otomotif di Shanghai.

Mibe secara terbuka mengakui keunggulan efisiensi dan kecepatan produksi yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan asal Tiongkok. Kekhawatiran ini kini menjadi isu utama yang membayangi masa depan pabrikan berlogo ‘H’ tersebut.

Dominasi China Speed yang Mengancam
Pernyataan Mibe mencerminkan realitas pahit yang dihadapi pabrikan tradisional di pasar otomotif terbesar dunia. “Kami tidak punya peluang melawan ini,” ujar Toshihiro Mibe sebagaimana dikutip dari Nikkei Asia.

Kekaguman sekaligus kekhawatiran Mibe didasari oleh fenomena yang dikenal sebagai ‘China Speed’. Pabrikan lokal Tiongkok mampu mengembangkan model kendaraan baru hanya dalam waktu dua tahun atau kurang.

Sebagai perbandingan, merek mapan seperti Honda biasanya membutuhkan waktu dua kali lipat lebih lama. Hal ini membuat penetrasi Honda di pasar China terus mengalami tekanan hebat dalam lima tahun terakhir.

Faktor Penyebab Terpuruknya Daya Saing
Terdapat beberapa faktor fundamental yang menyebabkan Honda merasa tertinggal jauh dari kompetitor Tiongkok. Pertama, kekuatan rantai pasok di Tiongkok sangat efisien dalam hal biaya dan waktu produksi.

Kedua, volume penjualan Honda di sana merosot tajam dari 1,62 juta unit pada 2020. Angka tersebut diprediksi akan anjlok hingga di bawah 600.000 unit pada tahun 2026 mendatang.

Kondisi ini diperparah dengan utilisasi pabrik yang kini hanya mencapai sekitar 50 persen saja. Angka tersebut berada jauh di bawah batas minimal profitabilitas industri otomotif secara global.

Selain itu, tantangan di sektor kendaraan listrik (EV) juga menjadi ganjalan besar bagi perusahaan. Honda terpaksa membatalkan pengembangan beberapa model EV karena kesulitan membangun model bisnis yang menguntungkan.

Langkah Strategis Global Honda
Menanggapi krisis ini, Mibe segera menginstruksikan para pemasoknya untuk bergerak lebih cepat. “Kita harus bertindak cepat guna mempercepat pengembangan produk,” tegas Mibe saat kembali ke Jepang.

Secara struktural, Honda melakukan langkah besar dengan memulihkan divisi Riset dan Pengembangan (R&D) yang independen. Ribuan insinyur direlokasi ke anak perusahaan teknik baru guna meningkatkan otonomi dalam berkreasi.

Langkah ini bertujuan untuk memangkas birokrasi yang selama ini memusat di kantor pusat. Perubahan strategi ini diharapkan mampu mengejar ketertinggalan teknologi dan kecepatan dari kompetitor di pasar Honda China.

Sentimen Serupa dari Pesaing Global
Kekhawatiran Honda ternyata juga dirasakan oleh pemimpin industri otomotif dunia lainnya seperti Ford dan Toyota. CEO Ford, Jim Farley, menyatakan bahwa kapasitas produksi Tiongkok bisa mengancam kelangsungan bisnis global.

Bahkan, Koji Sato selaku pimpinan Toyota turut memberikan peringatan keras kepada ratusan pemasoknya. “Kecuali jika keadaan berubah, kita tidak akan bisa bertahan,” ungkap Sato.

Fenomena ini menjadi sinyal kuat bagi para pengamat otomotif mengenai pergeseran kekuatan industri. Pabrikan besar harus segera merombak cara kerja mereka agar tidak tergilas oleh dominasi Tiongkok. (ton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *