otoplasa.com – China benar-benar menjadi pemain utama industri otomotif, khususnya EV atau kendaraan listrik. Bayangkan gara-gara memiliki pasokan tambang rare earth atau tanah jarang terbesar di dunia, Suzuki kelimpungan hingga memangkas target produksi Suzuki e-Vitara.
Demikian yang dialami Maruti Suzuki, produsen mobil terbesar di India yang juga anak usaha dari Suzuki Motor Corporation (SMC). Tak bisa mendapatkan tanah jarang sebagai bahan baku utama pembuatan mobil listrik, dengan terpaksa e-Vitara hanya diproduksi sepertiga saja dari target utama. Tak ayal sisanya dua pertiga kemungkinan bisa masuk produksi pada akhir September 2025.

Langkah ini diambil sebagai respons terhadap krisis pasokan material rare earth, menurut dokumen internal yang diperoleh oleh Reuters. Awalnya, Maruti berencana memproduksi sekitar 26.500 unit e-Vitara dalam enam bulan pertama tahun fiskal 2025-2026. Namun kini target itu direvisi menjadi hanya 8.200 unit, seiring dengan terbatasnya pasokan bahan baku utama seperti rare earth magnet yang dibutuhkan untuk komponen teknologi tinggi, termasuk motor listrik.
Meskipun demikian, Maruti tetap berkomitmen untuk memenuhi target tahunan produksi sebanyak 67.000 unit EV hingga akhir Maret 2026 dengan meningkatkan volume produksi pada paruh kedua tahun fiskal tersebut. Pada periode Oktober 2025 hingga Maret 2026, produksi akan ditingkatkan menjadi 58.728 unit atau sekitar 440 unit per hari pada puncaknya, atau naik dari target awal 40.437 unit pada periode yang sama.
Krisis ini terjadi di tengah pembatasan ekspor rare earth dari China, yang telah mengguncang industri otomotif global. Meski produsen di Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang mulai mendapatkan lisensi dari Beijing, khusus India masih menunggu persetujuan ekspor dari China, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan gangguan produksi lebih lanjut.
Peluncuran e-Vitara sebelumnya disambut meriah pada ajang Auto Expo India Januari lalu. Model ini menjadi simbol penting dari langkah awal Maruti Suzuki dalam elektrifikasi, sejalan dengan target ambisius pemerintah India yang ingin mendorong pangsa pasar EV hingga 30% dari total penjualan mobil pada 2030, atau naik tajam dari sekitar 2,5% tahun lalu.
Namun, langkah Maruti juga dinilai terlambat. Hingga kini perusahaan belum membuka pemesanan untuk e-Vitara, sementara pesaing seperti Tata Motors dan Mahindra & Mahindra sudah menguasai segmen EV lewat produk-produk SUV kaya fitur. Bahkan, Tesla dirumorkan akan mulai menjual mobil listriknya di India tahun ini.
Meski menghadapi tantangan, Suzuki Motor tetap menunjukkan keseriusan dalam mengembangkan kendaraan listrik. India menjadi pasar utama bagi Suzuki secara global, sekaligus basis produksi EV untuk ekspor ke Jepang dan Eropa pada pertengahan 2025 mendatang.
Namun, sebagai bagian dari penyesuaian strategis, Suzuki juga menurunkan target penjualan jangka panjangnya di India dari 3 juta unit menjadi 2,5 juta unit hingga Maret 2031. Rencana peluncuran EV pun dipangkas dari enam model menjadi hanya empat model saja, seiring ketatnya persaingan di pasar otomotif Asia Selatan.
Ketika kabar penurunan produksi ini mencuat, saham Maruti di bursa saham India sempat merosot hingga 1,4% dalam perdagangan harian. Walaupun pihak Maruti maupun Suzuki belum memberikan tanggapan resmi, Ketua Maruti RC Bhargava sebelumnya menyatakan kepada media lokal bahwa isu kelangkaan rare earth belum berdampak material pada jadwal peluncuran e-Vitara. Namun, dua sumber dari rantai pasok membenarkan adanya pengurangan produksi karena keterbatasan pasokan magnet rare earth.
Langkah ini sekaligus menjadi ujian bagi Suzuki dalam membuktikan keseriusannya menghadapi era elektrifikasi, terutama saat persaingan EV di India kian memanas. Nah jika sudah seperti ini, sangat masuk akal bila Suzuki e-Vitara masih lama kedatangannya ke Indonesia. (boi)











