otoplasa.com – Pertengahan MotoGP musim 2021 adalah masa-masa terakhir melihat sepak terjang Valentino Rossi. The Doctor telah menyatakan pensiun tidak lagi balapan pada 2022 nanti.
Dari kacamata Otoplasa, bila dicermati lebih mendalam justru Dorna dan FIM adalah dua belah pihak yang paling bertanggung-jawab membikin Rossi pensiun dini. Memang usia sang legenda telah 42 tahun hingga memunculkan pembenaran bahwa Rossi kalah bersaing dengan para pembalap muda.
Apakah fisik dan usia menjadi penyebab utama Rossi harus meninggalkan arena balap?
Belum tentu!
Ini karena Rossi selama beberapa tahun belakangan senantiasa berkutat dengan motor yang terjebak masalah serupa, yakni ban belakang yang lebih cepat aus. Dengan ban belakang yang tak bisa lagi memenuhi kemauan membalapnya, otomatis performa tiap detiknya melambat hingga dapat disusul oleh yang lain.
Dan kejadian ini kerap berulang sehingga pemilik nomor start 46 ini seakan tak pernah mendapatkan solusi. Setingan elektronik yang diubah berkali-kali hingga memakai swing-arm karbon pernah dilakukan dan seperti membentur batu karang. Semuanya sia-sia!
Bicara motivasi tak ada yang meragukan nama besar Valentino Rossi. Selama dia menemukan soul dan victory, selama itu pula dia akan bertahan. Rossi telah mencoba bertahan hingga usianya mencapai 42 tahun. Dan selama itu pula dia tetap optimis akan meraih hasil yang lebih baik.
Namun apa yang dijalaninya tetap tak sesuai harapan. Sebagai pembalap yang kerap menjadi langganan juara, tercatat Rossi naik podium kali terakhir di GP Spanyol seri kedua di Jerez pada 2020 lalu di posisi ketiga. Kemenangan terakhirnya adalah di GP Assen, Belanda pada 2017 lalu dan itu sudah terlalu lama.
Bila selama itu dia tak pernah bersua dengan sorak-sorai kemenangan, wajar Rossi pun menyerah. Apalagi tepat di tahun ini dimana Rossi turun kasta di tim satelit, semakin menguatkan tekadnya untuk tak balapan lagi. Ya, sang legenda telah sadar diri bahwa motor-motor yang pernah menyertai kejayaannya telah berubah. Sistem elektronik dan aturan yang memaksa semua tim memakai ECU serupa, telah mengakhiri jalan hidup dan karir sang mega bintang.
Padahal Dorna sendiri mengakui MotoGP tak ada Rossi tak akan sepopuler ini. Dan harus diakui pula seiring dengan semakin jarangnya melihat Rossi memberikan hiburan di lap-lap akhir balapan, antusias penonton menyaksikan MotoGP mulai berkurang tak seperti dulu lagi.
Apakah ada cara mengembalikan pamor MotoGP dan membikin Rossi tak jadi pensiun?
Ada tapi sangat sulit dilakukan. Yaitu kembalikan era MotoGP tanpa sentuhan kecanggihan elektronik dan biarkan tim berkreasi sendiri dengan ECU-nya masing-masing. Tak kalah penting hapus pemasok ban tunggal, supaya Michelin maupun Bridgestone bisa lagi bersaing satu sama lain.
Jika itu terwujud, Otoplasa yakin usia Rossi tak akan menjadi halangan untuk bisa bersaing dengan para pembalap muda. Bisa-bisa mereka akan kedodoran melawan Rossi. Dan andai Rossi bisa menang, pernyataan pensiunnya akan tertunda. “Jika saya memenangi gelar, saya akan lanjut,” kelakar Rossi saat ditanya wartawan di MotoGP Styria lalu.
Dengan gambaran di atas, sesungguhnya Dorna sebagai penyelenggara MotoGP maupun Federasi Sepeda Motor Internasional (FIM) sang regulator adalah pihak-pihak yang paling bertanggung jawab menjadikan Rossi pensiun dini dengan segala aturan ubahan regulasi selama ini.
Setuju? (anto)









