Otoplasa.com – Paradoks truk listrik Amerika sedang melanda konsumen Paman Sam. Diakui sarat teknologi, nyatanya sepi peminat. Konsumen dirundung banyak kekhawatiran akibat faktor psikologis.
Inilah fakta mengejutkan datang dari panggung otomotif global saat ini. Fenomena truk listrik Amerika tak ada yang tertarik membeli kini menjadi sorotan tajam para pengamat.
General Motors sebenarnya telah sukses meluncurkan Chevrolet Silverado EV yang sangat perkasa. Kendaraan murni elektrik ini tangguh dan memiliki daya jelajah luar biasa.
Jarak tempuhnya diklaim mampu mencapai 400 mil atau sekitar 643 kilometer. Dapur pacunya mengandalkan paket baterai masif sebesar 205 kilowatt-hour. Namun, catatan penjualan di ruang pamer justru sangat kontras dan memprihatinkan.

Inersia Pasar dan Kekhawatiran Konsumen
Raksasa otomotif asal Amerika Serikat dinilai salah dalam membaca arah pergerakan konsumen. Pasar pikap kabin ganda konvensional ternyata memiliki tingkat inersia yang sangat tinggi. Para calon pembeli masih sangat mencemaskan kesiapan infrastruktur pengisian daya baterai. Mereka juga sangat mengkhawatirkan daya tahan baterai saat mobil membawa beban penuh.
“Pembeli potensial merasa cemas tentang jarak tempuh dan infrastruktur pengisian daya,” tulis Tim De Chant dalam ulasannya.
Harga jual yang tinggi sering dituding sebagai penyebab utama kegagalan penetrasi pasar ini. Padahal, rata-rata harga truk berbahan bakar fosil sudah menembus angka yang tinggi.
Konsumen Amerika biasa membelanjakan rata-rata 66 ribu dolar AS untuk sebuah truk. Harga tersebut hanya berselisih tipis dari varian dasar Silverado EV LT. Jadi, faktor finansial awal sebenarnya bukan menjadi penghalang utama bagi konsumen.
Faktor Fungsionalitas Menderek
Faktor penurunan kemampuan menderek hingga 60 persen juga memicu keraguan besar masyarakat. Padahal, mayoritas pemilik truk sangat jarang menggunakan fitur derek ekstrem tersebut.
Data menunjukkan 75 persen pemilik hanya menderek satu kali dalam setahun. Kendati demikian, kecemasan psikologis ini tetap membayangi pikiran para calon konsumen. Akibatnya, ratusan ribu pengguna truk konvensional enggan beralih ke varian elektrik.
“Pihak pabrikan kemungkinan besar salah menilai karakter dan psikologis pasar truk,” tambah Tim De Chant.
Chevrolet sebenarnya telah berhasil meramu sebuah kendaraan listrik yang sangat matang. Fitur roda belakang kemudi membuat truk besar ini selincah mobil hatchback.
Ditambah sistem kendali otonom Super Cruise Level 2 juga bekerja dengan sangat mengesankan. Namun, kecanggihan fitur tersebut belum mampu mengubah persepsi radikal masyarakat Amerika. Dunia otomotif global kini menanti strategi baru pabrikan untuk memecah kebekuan pasar. (ton)









