Otoplasa.com – Jagat bisnis otomotif nasional geger dengan adanya rencana impor 105 ribu unit pick-up asal India dengan kondisi kapasitas lokal yang terancam menganggur. Pro kontra muncul seiring rencana PT Agrinas Pangan Nusantara berupaya mendatangkan ribuan armada tersebut.
Tak ayal memicu polemik panas mengingat nilai kontrak fantastis sebesar Rp24,66 triliun. Dana ini ditujukan untuk menyokong operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di seluruh pelosok negeri.
Pengadaan masif ini melibatkan dua raksasa otomotif Negeri Sari, yaitu Mahindra & Mahindra yang akan menyuplai 35.000 unit Scorpio Pick Up, serta Tata Motors yang mengirimkan 35.000 unit Yodha Pick-Up dan 35.000 unit truk ringan Ultra T.7.
Mengapa Harus India?
Alasan utama di balik manuver ini adalah kebutuhan spesifikasi penggerak empat roda (4×4) yang diklaim belum tersedia secara masif pada lini produksi massal di Indonesia. Faktor ekonomi juga menjadi kunci, harga impor kendaraan CBU India bisa 20% hingga 50% lebih murah setelah pajak AIFTA, yang berpotensi menghemat anggaran hingga Rp5-10 triliun.
Namun, urgensi ini diragukan. Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, menegaskan perlunya transparansi: “Tidak semua jalan desa di Indonesia membutuhkan fungsi 4×4. Mayoritas distribusi logistik desa masih dapat dilayani kendaraan 4×2 produksi dalam negeri,” ujarnya.
Adu Tangguh: Spesifikasi vs Layanan Purna Jual
Secara teknis, kendaraan India memang unggul di atas kertas. Mahindra Scorpio, misalnya, dibekali mesin 2.2 liter mHawk dengan torsi raksasa 320 Nm, melampaui rata-rata pikap Jepang di Indonesia. Sasis ladder frame-nya pun dirancang untuk beban ekstrem (heavy-duty).
Meski menang spesifikasi, kelemahan fatal mengintai di sektor layanan purna jual. Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu memperingatkan risiko downtime jika jaringan servis dan suku cadang tidak siap di pelosok. “Tanpa pemetaan berbasis data, armada berisiko jadi idle asset,” tegasnya.
Apalagi, Mahindra tercatat pernah melakukan beberapa kali recall terkait masalah teknis pipa fluida dan komponen mesin.
Nasib Industri Nasional
Di sisi lain, produsen dalam negeri seperti Toyota, Isuzu, Mitsubishi, dan Suzuki memiliki kapasitas produksi hingga 1 juta unit per tahun yang saat ini belum terserap optimal. Kendaraan rakitan lokal telah mengantongi TKDN di atas 40% dan didukung jaringan servis yang merata hingga ke daerah terpencil.
Hal senada disampaikan Ketua Umum KADIN Bidang Industri, Saleh Husin. Dia menyatakan kekecewaannya,”Mengimpor mobil CBU sama saja dengan membunuh industri otomotif yang sedang tumbuh,” tuturnya.
Bagaimanapun, keberpihakan pada produk nasional bukan sekadar slogan, melainkan instrumen vital untuk memperkuat kemandirian ekonomi dan menjaga nasib ribuan buruh otomotif di tanah air.
Nah para pembaca, kira-kira hasil akhir keputusan nanti seperti apa ya? Kita tunggu saja. (ton)









