Otoplasa.com – Kendaraan rakyat becak, kini mengusung spesifikasi teknologi motor listrik yang lebih ramah lingkungan di Surabaya. Model ikonik puluhan tahun itu resmi mengaspal dengan mendapatkan dukungan dari orang nomor satu di republik ini, yakni Presiden Prabowo Subianto.
Wajah transportasi tradisional di Kota Pahlawan resmi memasuki babak baru. Sebanyak 200 unit becak listrik telah diserahkan kepada para pengemudi becak lanjut usia (lansia) di Balai Kota Surabaya, Kamis (22/1/2026). Kehadiran armada bertenaga baterai ini bukan sekadar tren elektrifikasi, melainkan langkah nyata dalam menghadirkan solusi transportasi yang ramah lingkungan sekaligus meringankan beban fisik para pejuang jalanan di usia senja.
Bantuan ini merupakan inisiatif pribadi Presiden RI Prabowo Subianto melalui Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN). Program ini menyasar para pengemudi berusia 70 tahun ke atas untuk membantu mereka tetap produktif tanpa harus menguras tenaga fisik secara berlebihan.
Spesifikasi Teknis: Aman, Nyaman, dan Senyap
Dari kacamata otomotif, becak listrik hasil produksi PT Len dan PT Pindad ini dirancang dengan spesifikasi yang sangat mumpuni untuk kebutuhan mobilitas perkotaan yang santai dan aman. Berikut adalah rincian teknisnya:
* Kecepatan Maksimal: Dibatasi hanya 15 kilometer per jam. Angka ini dinilai paling ideal untuk menjaga keamanan, baik bagi pengemudi lansia maupun penumpang di tengah lalu lintas kota.
* Daya Jelajah: Dalam sekali pengisian daya penuh, becak ini mampu menempuh jarak hingga 40 kilometer (beberapa unit memiliki standar 36 km).
* Kemampuan Tanjakan: Meski bertenaga listrik, motor penggeraknya sanggup melibas tanjakan dengan kemiringan hingga 15 derajat tanpa kendala berarti.
* Ramah Lingkungan: Sebagai kendaraan listrik, unit ini dipastikan bebas emisi karbon dan memiliki suara yang sangat senyap (*noise-free*), sehingga menambah kenyamanan wisatawan saat berkeliling.
Bagi para tukang becak, transisi dari becak kayuh ke listrik ini dirasakan seperti sebuah anugerah. “Dulu kalau naik jembatan rasanya capek sekali, sekarang pakai yang listrik jadi enteng,” ujar Ba’i (74), salah satu penerima bantuan.
Skema Pengecasan dan Dukungan Infrastruktur
Salah satu pertanyaan krusial dalam adopsi kendaraan listrik adalah perihal pengisian daya. Pemerintah Kota Surabaya telah bergerak cepat untuk memastikan operasional harian tidak terhambat. Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menyatakan bahwa pihaknya melalui Dinas Perhubungan (Dishub) akan bekerja sama dengan PLN untuk menyediakan titik pengisian daya (charging station) khusus.
Rencananya, tempat pengecasan ini akan ditempatkan secara strategis di pangkalan-pangkalan becak wisata. Langkah ini bertujuan agar para pengemudi dapat melakukan pengisian ulang baterai dengan mudah di sela-sela waktu menunggu penumpang. Untuk urusan pemeliharaan jangka panjang, Yayasan GSN juga telah menjalin kerja sama dengan bengkel Viar di setiap daerah guna menangani servis dan penyediaan suku cadang jika terjadi kerusakan.
Fokus pada Kawasan Wisata
Masyarakat Surabaya nantinya dapat menjumpai dan menikmati layanan becak listrik ini di berbagai titik ikonik kota. Pemerintah Kota akan mengatur rute operasional agar tetap tertib, yakni difokuskan pada kawasan wisata seperti Kota Lama, Jalan Tunjungan, Peneleh, dan Ampel.
Perlu dicatat, becak listrik ini tidak diperbolehkan beroperasi di jalan protokol atau jalan utama kota demi alasan keselamatan. Namun, wisatawan tidak perlu khawatir, karena mulai awal Februari 2026, armada ini akan siap memberikan pengalaman baru menikmati sejarah Surabaya dengan cara yang lebih modern dan berkelanjutan.
Program ini diharapkan tidak hanya berhenti di angka 200 unit. Secara nasional, target pengadaan becak listrik ini mencapai 80.000 unit hingga tahun 2027, sebagai bagian dari upaya besar memuliakan rakyat kecil dan mendorong transportasi hijau di seluruh Indonesia. (boi)















