Harga Mobil China Tak Kemaruk Ambil Keuntungan

Rela Ambil Untung Tipis demi Bertahan di Tengah Perang Harga

Otoplasa.com – Akhirnya terungkap seterang-terangnya mengapa harga mobil-mobil buatan China sangat kompetitif alias murah banget dibandingkan produksi Jepang, Korea Selatan maupun Eropa hingga Amerika. Sebab produsen otomotif China tak kemaruk ambil keuntungan!

Mereka rela mengambil keuntungan tipis demi bertahan di tengah perang harga. Dampaknya harga mobil asal China semakin kompetitif di pasar global, termasuk Indonesia.

Di balik banderol yang agresif, industri otomotif China ternyata hanya menikmati margin keuntungan yang sangat tipis, bahkan mendekati titik terendah sepanjang sejarah. Data terbaru menunjukkan bahwa profit margin industri otomotif China sepanjang Januari hingga November 2025 hanya sebesar 4,4 persen, atau setara sekitar 2.000 dolar AS per unit kendaraan. Angka ini menjadi margin keuntungan terendah kedua dalam sejarah, hanya sedikit lebih baik dibanding rekor terendah pada 2024 yang berada di level 4,3 persen.

Sekretaris Jenderal China Passenger Car Association (CPCA), Cui Dongshu, mengungkapkan bahwa meskipun nilai pendapatan industri otomotif China sangat besar, keuntungan yang diperoleh produsen justru sangat terbatas. “Pendapatan rata-rata di sepanjang rantai industri otomotif mencapai 322.000 yuan per kendaraan, namun laba kotor per unit hanya sekitar 14.000 yuan,” ujar Cui Dongshu, Secretary-General China Passenger Car Association (CPCA).

Jika dikonversikan, laba tersebut hanya setara sekitar Rp31 jutaan per mobil, angka yang tergolong sangat kecil untuk industri otomotif berskala raksasa.

Skala Besar, Untung Tertekan
Secara keseluruhan, industri otomotif China mencatat pendapatan lebih dari 10 triliun yuan (sekitar 1,42 triliun dolar AS) sepanjang Januari–November 2025, tumbuh 8,1 persen secara tahunan. Namun, biaya produksi melonjak lebih tinggi, yakni 9 persen, mencapai 8,84 triliun yuan.

Kondisi ini menciptakan fenomena yang oleh analis disebut sebagai pertumbuhan skala dengan tekanan laba, produksi dan penjualan meningkat, tetapi keuntungan justru semakin tergerus. Sejak 2017, tren margin keuntungan industri otomotif China terus menurun secara konsisten:
* 2017: 7,8%
* 2018: 7,3%
* 2019: 6,3%
* 2020: 6,2%
* 2021: 6,1%
* 2022: 5,7%
* 2023: 5,0%
* 2024: 4,3%
* 2025 (Jan–Nov): 4,4%

Perang Harga Jadi Biang Kerok
Tekanan laba ini berasal dari dua faktor utama: kenaikan biaya dan persaingan internal yang ekstrem.

Di satu sisi, fluktuasi harga bahan baku baterai kendaraan listrik dan meningkatnya biaya tenaga kerja terus membebani produsen. Di sisi lain, persaingan antara kendaraan listrik (NEV) dan mobil bermesin bensin berubah menjadi perang harga terbuka.

Perang harga yang awalnya hanya terjadi di segmen mobil listrik kini merembet ke kendaraan konvensional, membuat hampir seluruh segmen pasar tertekan. Kondisi ini tercermin dalam laporan keuangan Great Wall Motor (GWM). Meski pendapatan perusahaan naik hampir 8 persen dalam tiga kuartal pertama 2025, laba bersihnya justru anjlok hampir 17 persen.

“Penurunan laba disebabkan oleh meningkatnya investasi di jaringan distribusi serta persaingan harga yang sangat ketat,” tulis laporan keuangan Great Wall Motor.

Dealer Rugi, Model Dijual di Bawah Harga Pokok
Tekanan juga dirasakan di tingkat dealer. Media otomotif China, Autohome, melaporkan bahwa lebih dari 50 persen dealer mobil di China mengalami kerugian, sementara lebih dari 70 persen model kendaraan dijual di bawah harga pokok produksi.

Artinya, harga murah mobil China bukan semata strategi promosi, melainkan langkah bertahan hidup di tengah persaingan brutal antar merek.

Produksi Meroket, Keuntungan Tetap Tipis
Sepanjang Januari hingga November 2025, produksi kendaraan di China mencapai 31,09 juta unit, naik 11 persen dibanding tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, 14,53 juta unit merupakan kendaraan energi baru (NEV), melonjak 27 persen, dengan tingkat penetrasi hampir 47 persen. Sementara itu, produksi mobil bermesin bensin stagnan di angka 16,57 juta unit.

Meski pada November 2025 margin keuntungan sempat membaik menjadi 4,4 persen, naik dari 3,9 persen pada Oktober, kondisi ini dinilai belum cukup untuk mengakhiri tekanan jangka panjang.

Harga Murah, Tapi Berisiko
Dengan margin keuntungan yang sangat tipis, pabrikan mobil China memang mampu menawarkan harga agresif dan mengguncang pasar global. Namun di balik itu, industri ini menghadapi risiko besar jika perang harga terus berlanjut.

Bagi konsumen, harga murah menjadi keuntungan. Namun bagi pabrikan, ini adalah pertaruhan besar demi mempertahankan volume penjualan dan eksistensi merek di tengah persaingan yang semakin kejam. (ton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *