Otoplasa.com – China kembali menghidupkan mesin rotary atau Wankel di saat pabrikan otomotif Jepang, Mazda, tidak lagi menjadikannya sebagai teknologi utama. Melalui Harbin Dongan Auto Engine, anak usaha Changan Automobile Group, Negeri Tirai Bambu mengembangkan mesin rotary generasi baru yang difokuskan bukan untuk mobil, melainkan untuk platform mobilitas udara generasi berikutnya, seperti drone dan pesawat VTOL (vertical take-off and landing).
Langkah ini menandai babak baru kebangkitan mesin rotary yang sebelumnya identik dengan Mazda. Namun kali ini, teknologi tersebut diarahkan untuk kebutuhan penerbangan jarak rendah dan kendaraan udara tanpa awak (UAV) yang tengah berkembang pesat di China.
“Mesin rotary memiliki karakteristik unik yang sangat cocok untuk aplikasi udara, mulai dari bobot ringan, getaran minim, hingga rasio tenaga terhadap berat yang tinggi,” ujar perwakilan manajemen Harbin Dongan Auto Engine dalam keterangan resminya.
Spesifikasi Mesin Rotary Dongan Auto
Dongan Auto saat ini telah mengembangkan prototipe mesin rotary satu rotor yang dirancang khusus untuk penerbangan rendah. Mesin ini mampu berputar hingga 6.500 rpm dan menghasilkan tenaga 53 kW atau setara 71 dk.
Meski tidak tergolong bertenaga besar, mesin tersebut dirancang presisi untuk fungsi spesifik. Rumah mesin menggunakan cast aluminum, sementara komponen internalnya dilapisi nanodiamond composite non-friction coating, yang bertujuan meningkatkan efisiensi serta ketahanan dalam kondisi operasional di udara.
Tak berhenti di sana, Dongan juga tengah menyiapkan versi dua rotor yang diproyeksikan mampu menghasilkan tenaga hingga 110 kW atau sekitar 148 dk. Produksi massal mesin rotary satu rotor ini dijadwalkan mulai 2027.
“Pengembangan mesin dua rotor sudah berjalan dan ditujukan untuk kebutuhan UAV dengan kapasitas lebih besar,” kata insinyur senior Dongan Auto Engine.

Mesin Rotary untuk Udara, Bukan Jalan Raya
Berbeda dengan pendekatan Mazda yang selama puluhan tahun mengembangkan mesin rotary untuk mobil sport, China justru melihat potensi Wankel sebagai solusi penggerak mobilitas udara. Tata letak rotary yang ringkas, suara halus, serta minim getaran dinilai jauh lebih relevan untuk pesawat tanpa awak dan kendaraan terbang.
Dongan bahkan tengah mengembangkan varian mesin rotary untuk UAV ketinggian menengah hingga tinggi, termasuk versi naturally aspirated dan turbocharged. Sejumlah mitra strategis telah dilibatkan, mulai dari ARIDGE (divisi mobil terbang Xpeng), hingga raksasa teknologi seperti Huawei dan DJI.
“Kolaborasi ini mempercepat riset dan memastikan mesin rotary dapat diintegrasikan dengan sistem penerbangan modern,” jelas juru bicara Dongan Auto.
Keunggulan China Meneliti Mesin Rotary
Fokus China pada mesin rotary memberikan sejumlah keunggulan strategis, antara lain:
* Efisiensi riset dan biaya produksi, berkat dukungan industri manufaktur berskala besar
* Aplikasi lintas sektor, dari otomotif hingga kedirgantaraan
* Integrasi dengan teknologi listrik dan hybrid, khususnya untuk sistem penggerak udara
* Regulasi yang lebih adaptif, memungkinkan pengujian teknologi baru secara cepat
Pendekatan ini membuat mesin rotary tak lagi terikat pada isu emisi kendaraan jalan raya, melainkan dimaksimalkan sesuai karakter aslinya.
Sejarah Singkat Mesin Rotary Wankel
Mesin rotary pertama kali dikembangkan oleh Felix Wankel, insinyur asal Jerman, pada 1950-an. Teknologi ini kemudian diproduksi oleh berbagai pabrikan dunia, seperti NSU, Citroen, Suzuki, hingga Mercedes-Benz dalam jumlah terbatas.
Namun, Mazda menjadi pabrikan yang paling konsisten mengembangkan dan memproduksi mesin rotary, mulai dari Cosmo Sport, RX-7, hingga RX-8. Mesin ini bahkan mengantarkan Mazda menjuarai 24 Hours of Le Mans 1991 lewat 787B bermesin rotary.
Sayangnya, standar emisi ketat Euro 5 membuat Mazda menghentikan produksi mesin rotary murni pada 2012. Meski demikian, teknologi ini kembali hadir pada MX-30 R-EV (2023) sebagai range extender, dengan tenaga 74 dk dan kapasitas 830 cc. Mazda juga sempat memamerkan konsep Vision-X Coupe, yang mengombinasikan mesin rotary turbo, motor listrik, dan baterai dengan total tenaga 503 dk.
Masa Depan Mesin Rotary di Tangan China?
Saat Mazda memilih pendekatan terbatas, China justru melihat peluang besar untuk menghidupkan kembali mesin rotary dalam wujud yang lebih relevan dengan masa depan. Dengan fokus pada mobilitas udara, drone, dan UAV, mesin Wankel berpotensi menemukan kembali kejayaannyanbukan di aspal, melainkan di langit.
Jika proyek ini berhasil, China bukan hanya merevolusi kendaraan listrik, tetapi juga bisa menjadi pusat kebangkitan mesin rotary dunia. Dan sekali lagi membikin takjub dunia dengan skala perkembangan teknologinya yang masif. (boi)









