Marc Marquez Bidik Gelar Ke-8 Runtuhkan Rekor Rossi

Nih Para Pesaing Berat di MotoGP 2026

Otoplasa.com – Musim MotoGP 2026 bukan sekadar kalender balap biasa bagi Marc Marquez. Ini adalah babak penentuan sejarah. Setelah sukses menyamai torehan tujuh gelar juara dunia kelas utama milik Valentino Rossi, sang The Ant of Cervera kini menatap satu target tunggal, meraih gelar kedelapan dan menahbiskan dirinya sebagai pembalap tersukses di era modern MotoGP.

Meski masih dalam fase pemulihan pasca-operasi bahu kanan akibat insiden horor di GP Indonesia tahun lalu, mentalitas Marquez tidak kendur. Di tengah ambisi besarnya melampaui rekor The Doctor, Marc secara mengejutkan merilis daftar rival yang ia anggap paling berbahaya. Namun, perhatian tertuju pada satu nama yang paling dekat dengannya, yakni sang adik, Alex Marquez.

Keluar dari Bayang-Bayang: Alex Marquez Jadi Ancaman Utama
Marc mengakui bahwa tantangan terberat untuk melampaui rekor Rossi justru datang dari garasi sebelah, bukan di timnya, melainkan dari adiknya sendiri. Musim 2025 menjadi bukti sahih bahwa Alex bukan lagi sekadar pelengkap di grid.

Sebagai pengingat, Alex mengakhiri musim 2025 sebagai runner-up dunia, memaksa kakaknya bekerja ekstra keras di setiap seri. Selain itu Alex tercatat 17 kali finis tepat di belakang Marc dan menjadi pembalap yang memutus rentetan 15 kemenangan beruntun Marc di GP Catalunya.

“Yang pertama (rival terkuat) adalah Alex, saudara saya. Dia finis kedua tahun lalu, jadi saya menjawab berdasarkan klasemen,” ujar Marc.

Tak bisa dianggap remeh, ada tiga pembalap lainnya yang siap mengancam. Tembok besar penghalang ambisi Marc untuk mencetak rekor baru datang dari pabrikan lain dan rekan setimnya sendiri. Marc memprediksi Francesco ‘Pecco’ Bagnaia akan bangkit setelah musim 2025 yang fluktuatif.

“Lalu saya akan menempatkan Pecco. Dia juara dunia dua kali dan menunjukkan potensinya dengan kemenangan ganda di Jepang,” tambahnya.

Selain Pecco, Marc juga menyoroti Aprilia yang kini diperkuat Marco Bezzecchi, pembalap yang terlibat insiden dengannya di Mandalika. Serta si bocah ajaib Pedro Acosta dari kubu KTM yang finis di posisi keempat klasemen tahun lalu.

Pertaruhan Terakhir di Atas Desmosedici?
Mengenakan seragam merah Ducati Lenovo membawa konsekuensi besar. Marc sadar bahwa dengan motor terbaik di grid, tidak ada alasan untuk gagal. “Jika Anda memakai seragam merah, Anda wajib bertarung untuk gelar. Semuanya ada di tangan Anda,” tegasnya.

Namun, di balik optimisme itu, ada nada realistis. Kontraknya yang akan habis di akhir 2026 dan kondisi fisik yang mulai digerogoti cedera membuat musim ini terasa seperti all-or-nothing. Jika Marc berhasil juara, ia akan berdiri sendirian di puncak sejarah MotoGP dengan 8 gelar kelas utama, meninggalkan rekor 7 gelar milik Rossi yang bertahan selama bertahun-tahun.

Ujian pertama akan tersaji di Tes Pramusim Sepang awal Februari nanti. Apakah bahu kanan Marquez mampu menahan beban sejarah yang sedang ia kejar? Ataukah para rival muda akan menghentikan langkahnya tepat di garis rekor? Kita tunggu saja. (ton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *