Usai puluhan tahun tak bisa mudik akibat tanggung-jawab pekerjaan, 2023 pun terasa istimewa.
otoplasa.com – Bersua dengan mantan petinggi salah satu BUMN terkemuka di Indonesia ini sangatlah istimewa. Dia adalah Waljiyanto yang terkenal low profile dan sangat dekat dengan insan media nasional.
Seperti biasa ketika bersua dengan Otoplasa, pria asal Yogyakarta yang baru saja pensiun di salah satu BUMN terbesar di Indonesia itu baru saja menjalani ujian doktor di kampus Universitas Brawijaya, Malang. Mengambil Prodi Program Doktor Administrasi Kampus Jakarta, Waljiyanto sangat antusias menggeluti Administrasi Bisnis.

Khusus disertasi karya tulis ilmiahnya adalah berjudul ‘PENGARUH TRANSFORMASI ORGANISASI DAN BUDAYA ORGANISASI TERHADAP KINERJA PRODUK DENGAN ORIENTASI PASAR SEBAGAI VARIABEL MEDIASI DAN DIMODERASI PERAN PEMERINTAH’.
Bertempat di Gedung A lantai 2 ruang 2.2. FIA Universitas Brawijaya, Malang, Waljiyanto pun harus memaparkan karya tulis ilmiahnya di hadapan beberapa dosen penguji. Mereka adalah Prof Dr M Al Musadieq, MBA, Dr Drs Edy Yulianto MP, Yusri Abdillah S Sos, M Si, Ph D, Prof Dr Hamidah Nayati Utami, M Si, Dr Sunarti, M Si, Dr Benny Hutahayan, ST, MM, MPA, M Th, Dr Ika Ruhana S Sos, M Si, Prof Dr Martani Huseini, MBA dan Prof Dr Andi Sularso, MSM.
“Yang penting istirahat yang cukup sebelum ujian,” kata Waljiyanto, Senin (20/03) pagi.
Dan hasilnya?
Waljiyanto pun dinyatakan lulus sebagai Doktor dan akan wisuda pada akhir Mei 2023 nanti.
“Alhamdulillah akhirnya lulus juga,” ujar Waljiyanto.

Seiring dengan keberhasilannya menggenggam gelar doktor, Waljiyanto pun bertekad ingin membagikan pengalamannya selama berkarir di ragam jenjang posisi yang pernah di pegangnya, khususnya kepada yang lebih muda. “Ya saya ingin berbagi pengalaman di bidang usaha dan bisnis dengan menjadi dosen terbang. Semoga apa yang saya lakukan bermanfaat untuk banyak orang,” harap bapak tiga orang anak yang memiliki filosofi ‘Urip iku urup, urip iku mung mampir mesem’.
“Hidup itu harus memberikan penerangan atau kebahagiaan orang lain, hidup itu wajib khusnudzon agar semua bergembira bersama kita,” wantinya.
Waljiyanto tak menampik saat pensiun telah mendapatkan penawaran sebagai tenaga ahli. Namun dia menolaknya dengan halus karena ingin menyelesaikan program studi doktornya terlebih dahulu. “Tentu saya harus membekalinya dulu dengan disiplin ilmu yang saya tekuni, supaya lebih yakin bertemu dengan banyak orang,” tutur Waljiyanto merendah.
Tak ubahnya meninggalkan zona nyaman, justru dia punya pandangan yang berbeda. “Idealnya tiap orang bekerja berusaha mendapatkan zona nyaman dan sering dianggap ketika keluar dari zona tersebut ingin mendapatkan tantangan baru. Padahal kalau tantangan baru, menurut saya kita harus tetap berada di zona nyaman demi tetap menghasilkan prestasi yang maksimal,” ungkap Waljiyanto.

Lebih lanjut dia menambahkan berusaha berpindah dari zona nyaman ke zona yang lebih nyaman adalah hal lumrah. “Ini sangat naluriah dan manusiawi,” bebernya.
Demikian pula dengan Out of The Box. Waljiyanto pun memiliki pandangan berbeda pula. “Out of The Box itu menjadi hal yang populer. Namun bagi saya tetap memaksimalkan yang ada pada box-nya dengan mengkreasikan hal yang baru. Jadi jangan sampai meninggalkan yang ada,” wantinya.
“Intinya Out of The Box, ditingkatkan menjadi Think There is No Box, berfikir tanpa batas,” jelas Waljiyanto.
Kini seusai menikmati waktunya yang lebih banyak bersama keluarga, Waljiyanto pun merasakan keasyikkan tersendiri ketika mudik ke Yogyakarta beberapa waktu lalu. Dia pun merasakan hal baru karena selama puluhan tahun tak sempat menikmatinya.
“Dulu selama masa-masa mudik lebaran, hingga lebaran itu berakhir, saya tetap harus stand-by dan tak pernah memikirkan mudik bersama keluarga karena ada tugas dan tanggung-jawab dari perusahaan. Saat bisa mudik seperti sekarang, rasanya menemukan hal baru,” pungkasnya. (boi)

Cek artikel www.otoplasa.com yang lain di Google News









