Otoplasa.com – India yang kerap disebut netizens sebagai Prindavan, dan Indonesia yang diasosiasikan Konoha, nyatanya lebih bergengsi di mata balap MotoGP. Pasalnya Bajaj, produsen otomotif roda dua Negeri Sari, telah menguasai KTM yang merupakan tim pabrikan peserta MotoGP.
Dimana tim ini selalu tampil di seluruh hajatan seri gelaran MotoGP alias full musim. Sedangkan Indonesia santer terdengar saat balapan singgah di Mandalika. Kendati demikian kita patut bangga, musim balap tahun depan, Indonesia ada dua wakilnya di ajang MotoGP, yaitu Mario Aji di Moto2 dan Veda Ega Pratama meniti karir di Moto3.
Seiring raksasa otomotif India, Bajaj Auto, yang kini resmi menjadi pemegang kendali utama atas KTM, terealisasi setahun lalu pada 23 Oktober 2024. Otoritas keuangan Austria memberi izin bagi Bajaj untuk membeli seluruh saham yang sebelumnya dimiliki mantan CEO KTM, Stefan Pierer. Dengan langkah ini, Bajaj kini menguasai penuh Pierer Mobility AG, induk perusahaan KTM.

100 Persen Milik Bajaj
Melalui situs resmi perusahaan, Bajaj Auto International Holdings B.V., yang berbasis di Amsterdam, dinyatakan telah memperoleh izin membeli 50.100 saham Pierer Bajaj AG. Dengan akuisisi itu, Bajaj memiliki 100 persen kepemilikan Pierer Bajaj AG, yang menguasai 74,9 persen saham Pierer Mobility. Sisanya tetap diperdagangkan di bursa Swiss dan Austria.
Langkah ini menandai akhir era Stefan Pierer, sosok yang menyelamatkan KTM dari kebangkrutan pada awal 1990-an. Kini, Bajaj bersiap menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk mengganti nama perusahaan menjadi Bajaj Mobility AG. Seluruh anggota dewan yang ditunjuk Pierer juga akan diganti.
Perubahan di Markas KTM, Mattighofen
CEO Bajaj Auto, Rajiv Bajaj, memberi sinyal akan ada restrukturisasi besar. Dalam wawancara dengan CNBC, ia menyebut potensi pemangkasan biaya hingga 50 persen, termasuk di bidang riset, pemasaran (termasuk balap), dan administrasi.
“Dari 4.000 karyawan, hanya 1.000 yang berstatus pekerja pabrik. Sisanya pegawai kantor,” ujar Rajiv Bajaj. Menurutnya, jumlah staf administrasi di KTM terlalu besar dan perlu efisiensi.
Meski demikian, Bajaj menegaskan bahwa produksi motor tetap dipertahankan di Austria, khususnya untuk segmen motor premium. Sementara motor bermesin kecil KTM sudah lama dirakit di India melalui kerja sama produksi dengan Bajaj.

Masa Depan Tim Balap KTM
Kabar efisiensi Bajaj menimbulkan kekhawatiran di dunia balap. Direktur Olahraga KTM, Pit Beirer, memastikan proyek MotoGP tetap berlanjut. “Kami sudah mendapat mandat resmi untuk mengembangkan mesin baru era MotoGP berikutnya. Kami tetap di MotoGP,” tegas Beirer.
Namun, Beirer juga mengakui adanya pemangkasan di beberapa lini, seperti tim GASGAS Trial Factory dan pengurangan pembalap di Rally Dakar dari delapan menjadi tiga orang. “Itu menyakitkan, tapi perlu demi masa depan,” katanya.
Rajiv Bajaj sendiri menyebut pemasaran dan balap akan dikaji ulang dari sisi efisiensi. Hal ini memunculkan spekulasi bahwa Bajaj bisa saja menjual divisi KTM Racing, yang berdiri terpisah di Munderfing, Austria.
Langkah itu bisa menarik minat investor baru, terutama setelah Liberty Media, pemilik Formula 1 juga telah mengambil alih MotoGP, yang meningkatkan nilai komersial olahraga ini.
Investor Potensial: Red Bull, BMW, atau China?
Salah satu skenario adalah Red Bull, sponsor utama KTM, membeli divisi balap tersebut. Namun hingga kini, belum ada konfirmasi resmi. Sementara itu, pabrikan Tiongkok seperti CFMoto, QJMOTOR, dan Kove mulai aktif di dunia balap internasional dan bisa tertarik mengakuisisi tim untuk mendapatkan pengalaman MotoGP.
CFMoto sendiri sudah menjalin kemitraan teknis dengan KTM dalam pengembangan beberapa model motor sport. Jika mereka masuk ke MotoGP lewat pembelian KTM Racing, hal itu bisa mempercepat langkah Tiongkok di arena balap tertinggi dunia.

Peluang Bajaj di Pasar Indonesia
Bajaj bukan nama asing bagi pasar Indonesia. Merek ini sempat hadir melalui motor tiga roda Bajaj RE, yang populer di Jakarta pada awal 2000-an sebagai kendaraan niaga dan angkutan umum, serta motor sport roda dua, Pulsar. Namun, Bajaj kemudian hengkang.
Kini, dengan posisinya sebagai pemegang kendali KTM dan keterlibatan di MotoGP, peluang Bajaj untuk kembali ke pasar Indonesia terbuka lebar. Kolaborasi produk antara KTM dan Bajaj, seperti Duke 200 atau Pulsar 250, memiliki potensi kuat untuk dipasarkan di Tanah Air. Hanya saja ini masih perlu analisa lebih mendalam, mengingat juga pernah menjalin kerjasama dengan Kawasaki yang kini kondisinya juga lebih fokus menghadirkan motor-motor segmented.
Padahal keterlibatan Bajaj dalam ajang MotoGP juga bisa menjadi sarana branding global yang memperkuat citra produknya. Jika Bajaj memutuskan untuk membawa lini motor sport KTM-Bajaj ke Indonesia, bukan mustahil pasar akan menyambut positif, terutama di segmen entry-level sport dan adventure.
Alhasil akuisisi penuh KTM oleh Bajaj menandai babak baru industri sepeda motor global. Meski efisiensi menjadi fokus utama, Bajaj menegaskan komitmennya untuk tetap bertahan di MotoGP. Dengan pengalaman masa lalu di Indonesia dan kekuatan merek KTM, langkah strategis Bajaj di masa depan bisa membuka peluang kembalinya ke pasar Indonesia.
Kita tunggu saja. (boi)















