Otoplasa.com – Memasuki bulan November, kisah inspiratif datang dari petani miskin yang mampu merubah kehidupannya menjadi pendiri raksasa, Hyundai, yaitu Chung Ju-Yung. Bapak otomotif Korea Selatan ini menegaskan kesuksesan cukup bisa diraih dengan tekad luar biasa.
Ya, pendiri Hyundai Group ini tercatat sebagai salah satu konglomerat terbesar di Korea Selatan. Ia lahir pada 25 November 1915 di Tongchon, Gangwon, Korea, saat Korea masih berada di bawah penjajahan Jepang. Dan wilayah tersebut kini menjadi bagian dari Korea Utara.
Kehidupannya dimulai dari kemiskinan ekstrem. Ia pernah berkata, “Saya lahir begitu miskin, sehingga tanah yang saya pijak pun bukan milikku.” Kalimat ini mencerminkan kerasnya perjuangan hidup yang ia alami sejak kecil.
Berjalan Kaki Sejauh 200 Kilometer
Sejak muda, Chung menolak takdir menjadi petani seperti ayahnya. Pada usia 16 tahun, ia melarikan diri dari rumah menuju Seoul dengan berjalan kaki sejauh 200 kilometer. Tanpa uang dan tanpa alas kaki, ia mencari pekerjaan apa pun demi bertahan hidup.
Ia bekerja sebagai buruh, tukang batu, dan asisten tukang kayu. Sering kali ia tidur di lantai dan menahan lapar. Meski hidup keras, semangatnya tak pernah padam. Ia sempat gagal membuka bengkel karena ditipu, namun ia bangkit dan mencoba lagi.
Tahun 1946 menjadi titik balik. Chung Ju-Yung mendirikan Hyundai Engineering and Construction Company. Dari usaha kecil ini, Hyundai tumbuh menjadi kekuatan besar di industri manufaktur dan otomotif Asia.

Luncurkan Hyundai Pony
Puncak pencapaiannya terjadi pada 1975 saat Hyundai meluncurkan mobil pertama buatan Korea, Hyundai Pony. Namun perjalanan itu tidak mudah. Banyak yang meragukan kemampuan Korea Selatan membuat mobil sendiri.
Tantangan besar datang dari keterbatasan teknologi dan pengalaman. Hyundai harus menggandeng insinyur Inggris serta menggunakan mesin dari Mitsubishi. Bahkan, sebagian media Korea saat itu skeptis terhadap kualitas Hyundai Pony, menganggap mobil lokal belum layak bersaing dengan merek Jepang.
Meski demikian, respon konsumen di Korea justru sangat positif. Hyundai Pony menjadi simbol kebanggaan nasional. Rakyat Korea melihatnya sebagai bukti bahwa industri dalam negeri mampu berdiri sejajar dengan negara maju. Penjualan pun meningkat pesat, bahkan mobil ini diekspor ke lebih dari 100 negara.
Pony hadir dengan tiga opsi mesin yang semuanya merupakan buatan Mitsubishi. Ada 4G36 1.200 cc, 4G33 1.400 cc dan 4G32 1.600 cc yang dipadu transmisi 4-speed MT atau 3-speed AT. Dan sebagaimana mobil era tersebut, Pony juga tersedia dalam banyak tipe bodi. Ada 2-door coupé utility, 2-door pickup, 3-door liftback, 4-door saloon car, 5-door liftback dan 5-door estate car.
Tekad Sudah Cukup
Chung Ju-Yung selalu menekankan pentingnya tekad dan kerja keras. “Saya tidak kuliah. Saya tidak punya koneksi. Satu-satunya yang saya miliki adalah tekad. Dan itu sudah cukup,” ujarnya.
Selain dikenal sebagai pengusaha sukses, ia juga memiliki jiwa nasionalis tinggi. Pada akhir 1990-an, ia berperan membuka hubungan ekonomi antara Korea Selatan dan Korea Utara dengan membawa ribuan ekor sapi sebagai simbol perdamaian.
Chung Ju-Yung meninggal dunia pada 21 Maret 2001 di usia 85 tahun. Namun warisannya tetap hidup melalui Hyundai Motor Group, yang kini menjadi salah satu produsen mobil terbesar di dunia.
Kisah hidupnya membuktikan bahwa kemiskinan bukan akhir segalanya. Dengan tekad kuat dan keberanian menghadapi tantangan, impian setinggi apa pun bisa diwujudkan. (boi)















