Dari Asap Rokok ke Energi Bersih: Transformasi Djarum Via Mobil Listrik Polytron G3

Menuju Masa Depan Ramah Lingkungan

otoplasa.com, Surabaya – Transformasi besar tengah dijalani Grup Djarum, yang selama ini dikenal sebagai raksasa industri rokok nasional. Melalui anak perusahaannya di bidang elektronik, PT Hartono Istana Teknologi (Polytron), grup ini kini mengarahkan langkah menuju masa depan ramah lingkungan dengan meluncurkan mobil listrik perdana mereka, Polytron G3, pada Selasa, 6 Mei 2025.

Langkah ini menandai evolusi signifikan bagi konglomerasi milik Hartono bersaudara, Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono, dari penghasil emisi karbon lewat rokok menjadi pelopor teknologi transportasi bersih di Tanah Air. Terbukti dengan kehadiran Polytron G3 yang telah resmi mengaspal di Tanah Air.

Mobil listrik pertama Polytron, G3, diproduksi secara lokal di fasilitas PT Handal Indonesia Motor (HIM) dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mencapai 40 persen. Dalam perakitannya, Polytron menjalin kemitraan strategis dengan produsen mobil listrik asal Tiongkok, Skyworth Auto.

Kendaraan berjenis SUV ini ditawarkan dalam dua varian: Polytron G3 seharga Rp 299 juta dan G3+ seharga Rp 399 juta. Keduanya menggunakan sistem battery as a service (BaaS), dengan biaya sewa baterai sebesar Rp 1,2 juta per bulan. Jarak tempuh maksimal diklaim mencapai 800 kilometer.

“Kita mencari partner yang punya visi sama dalam membangun industri EV di Indonesia. Produk harus sesuai dengan kebutuhan pasar lokal,” ujar Direktur Komersial Polytron, Tekno Wibowo, saat peluncuran di Hotel Kempinski, Jakarta.

Ia menambahkan bahwa baterai yang digunakan berbasis Lithium Iron Phosphate (LFP) dan sebagian komponennya sudah disuplai oleh produsen lokal.

Target 1.500 Unit dan 8 Showroom Baru
Polytron menargetkan penjualan 1.500 unit mobil listrik hingga akhir 2025. Pengiriman pertama dijadwalkan pada pertengahan Juli mendatang, dengan proses pemesanan sudah dibuka. “Kami juga akan membuka delapan showroom khusus mobil tahun ini. Beberapa dealer sudah menyatakan ketertarikan dan sedang dalam tahap penjajakan,” jelas Tekno.

CEO Polytron, Hariono, menegaskan bahwa kehadiran G3 dan G3+ bukan hanya tentang bisnis, tetapi juga komitmen perusahaan mendukung penurunan emisi karbon sebagaimana tertuang dalam Perjanjian Paris. “Bisnis kami akan diarahkan pada sektor ramah lingkungan. Ini bagian dari kontribusi Polytron dalam mewujudkan target Net Zero Emission (NZE) Indonesia,” tegasnya.

Perjalanan Panjang dari Kudus
Transformasi Polytron tidak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang Grup Djarum. Didirikan pada 1975, Polytron menjadi anak perusahaan pertama Grup Djarum di luar sektor tembakau. Nama Polytron sendiri berasal dari gabungan kata “poly” (banyak) dan “tron” (elektronik), mencerminkan visi perusahaan sebagai produsen multielektronik.

Awalnya memproduksi televisi, perusahaan kemudian memperluas lini bisnisnya ke audio, lemari es, AC, mesin cuci, hingga smartphone. Baru pada 2020-an, Polytron mulai menapaki industri kendaraan listrik, dimulai dari motor listrik dengan tiga varian.

Perusahaan induknya, Djarum, didirikan oleh Oei Wie Gwan di Kudus pada 1951. Setelah wafatnya sang pendiri dan kebakaran besar pada 1963, estafet kepemimpinan beralih ke kedua putranya, Robert dan Michael Hartono. Di bawah kendali mereka, Djarum tumbuh menjadi salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia, sebelum kemudian merambah perbankan lewat akuisisi Bank Central Asia (BCA), serta sektor elektronik, properti, dan agribisnis.

Kini, keduanya tercatat sebagai orang terkaya di Indonesia. Per 9 Mei 2025, kekayaan Robert Budi Hartono mencapai US\$ 22,4 miliar, sementara Michael Bambang Hartono sebesar US\$ 21,5 miliar.

Transisi Menuju Masa Depan Hijau
Transformasi Polytron adalah cerminan perubahan arah bisnis Grup Djarum dari sektor yang selama ini dikaitkan dengan polusi, menuju industri berkelanjutan. Di tengah tuntutan global akan transisi energi dan mobilitas hijau, langkah ini menjadi sinyal penting bagi sektor industri Indonesia. Melalui Polytron G3, Grup Djarum kini bukan lagi sekadar simbol kekuatan ekonomi dari Kudus, tapi juga bagian dari masa depan energi bersih di Indonesia.

Selamat! (boi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *