Otoplasa.com – Di tengah kehebohan impor pick-up India untuk Koperasi Desa Merah Putih, ternyata Chery ada pilihan, KP31! Bahkan pick-up buatan jemawa Tiongkok ini diklaim paling canggih di dunia, karena telah mengusung teknologi Diesel PHEV pertama.
Pick-up bernama KP31 telah tampil di ajang hybrid showcase di Sydney (23/2), Australia kemarin. Jelas sekali dari tampilan dan fitur, lebih mewah dan ganteng jika dibandingkan dengan Mahindra Scorpio dan Tata Yodha.
Selain itu Chery KP31 bukan sekadar kendaraan operasional biasa, dia adalah ute pertama di dunia yang mengusung teknologi Plug-in Hybrid (PHEV) Diesel. Kehadiran KP31 dapat memicu alternatif bahwa dia layak jadi pilihan jika dibandingkan dengan produk India.
Saat efisiensi anggaran menjadi alasan utama memilih produk India, Chery menawarkan alternatif yang jauh lebih canggih, ramah lingkungan, namun tetap kompetitif. Asal tahu saja Chery telah memiliki basis perakitan yang sudah berdiri di Indonesia.

Apa Bedanya Ute dan Pick-Up Double Cabin?
Tampil perdana di depan publik Australia, Chery KP31 sengaja memberikan embel-embel ute. Sebagai informasi, publik Indonesia, lebih sering merujuk dengan sebutan pick-up sebagai kendaraan angkut murni. Sementara double cabin (D-Cab) dianggap SUV yang ada baknya. Namun, Chery KP31 mengusung identitas Ute atau utility.
Secara filosofis, Ute menggabungkan DNA kenyamanan mobil penumpang (passenger car) dengan ketangguhan sasis tangga (ladder-frame). Berbeda dengan pick-up tradisional yang cenderung kaku, Ute modern seperti KP31 menawarkan interior mewah dan teknologi mutakhir tanpa mengorbankan fungsionalitas.
Head-to-Head, Chery KP31 vs Rival India (Mahindra & Tata)
Rencana impor dari India mencakup dua nama besar, Mahindra Scorpio dan Tata Yodha. Berikut adalah perbandingan teknis antara ketiganya:

Meskipun produk India unggul dalam kesederhanaan mekanis untuk kerja kasar, Chery KP31 membawa keunggulan efisiensi termal hingga 47% dan kemampuan berkendara mode elektrik penuh (EV range) yang mencapai angka tiga digit (di atas 100 km).
“Menjadi merek pertama yang menawarkan diesel PHEV di kelas dual-cab ute akan menjadi titik perbedaan utama kami dibandingkan kompetisi,” tegas Lucas Harris, Chief Operating Officer Chery Australia.
Gambaran Harga, Bisakah Chery Bersaing?
Pertanyaan besarnya adalah berapa harganya? Di pasar Australia, Chery KP31 diprediksi akan bersaing ketat dengan BYD Shark 6 di rentang harga AUD 55.000 – 60.000 (sekitar Rp560 – 610 jutaan).
Namun, untuk pasar Indonesia, situasinya bisa sangat berbeda. Mengingat Chery telah memiliki fasilitas perakitan lokal (CKD) di Tanah Air, harga jual bisa ditekan signifikan. Jika Mahindra Scorpio D-Cab saat ini dibanderol sekitar Rp318 jutaan dan Tata Yodha di angka Rp200 jutaan, Chery KP31 versi produksi massal diprediksi bisa masuk di angka Rp400 – 500 jutaan untuk varian flagship.
Artinya bila beberapa fitur kecanggihannya dilucuti untuk kebutuhan koperasi desa, sangat memungkinkan harganya bisa bersaing dengan produk India. Kalaupun terlihat lebih mahal di atas kertas, nilai investasi jangka panjang dari penghematan bahan bakar diesel PHEV dan biaya perawatan yang lebih rendah berkat teknologi hybrid bisa menjadi pertimbangan kuat bagi pengelola koperasi.
Tak dipungkiri pula, Chery tergolong agresif dalam membuka diler dan cabang baru di hampir seluruh kota besar di Indonesia. Artinya ketersediaan layanan after sales juga dapat menjadi pertimbangan.
Masa Depan Logistik Desa
Chery KP31 membuktikan bahwa kendaraan pekerja tidak harus ketinggalan zaman. Dengan rencana peluncuran unit produksi pada kuartal keempat 2026, Chery memiliki peluang besar untuk masuk ke segmen fleet nasional. Jika pemerintah dan Koperasi Merah Putih mencari keseimbangan antara harga, teknologi hijau, dan dukungan industri dalam negeri (perakitan lokal), Chery KP31 adalah kandidat yang sulit diabaikan.
Jadi bagaimana masih tetap tak mau beralih dari produk negeri asal Shah Rukh Khan, atau sudah tertarik dengan Donnie Yen? (boi)









