otoplasa.com – Beragam cedera yang menimpa Marc Marquez diperkirakan bakal membikin pembalap Repsol Honda itu sulit menyamai rekor Valentino Rossi. Alih-alih 2019 lalu bisa mengoleksi 9 gelar juara dunia, justru di tahun itu petaka menghampiri The Baby Alien. Nyaris satu musim dia harus beristirahat demi memulihkan cedera patah tangan kanannya.
Sebagai pengingat, Marquez di kelas para raja telah mengoleksi 6 gelar juara dunia MotoGP (2013, 2014, 2016, 2017, 2018, 2019). Sementara juara dunia di Moto2 dan 125 cc, masing-masing diraihnya pada 2012 dan 2010. Jadi total dia mengoleksi 8 kali juara dunia.
Kini kita bandingkan dengan raihan seteru abadinya, Valentino Rossi. Tercatat The Doctor memiliki 9 gelar juara dunia atau 1 kali lebih banyak dari Marquez. Dimana dia meraih kali pertama pada 1997 di kelas 125 cc, dan berlanjut pada 1999 di kelas 250 cc. Puncaknya di kelas MotoGP koleksinya ada 7 (2001, 2002, 2003, 2004, 2005, 2008, 2009).
Kendati Marquez masih berpeluang menyamai atau mengalahkan catatan Rossi yang telah pensiun, patut diingat fisiknya tak sama lagi. Cedera berat seperti tulang Humerus yang masih bermasalah dan kambuh-kambuhan, ditambah dengan gegar otak dan yang terakhir ada keluhan Diplopia atau penglihatan ganda. Maka makin klop performa Marquez yang luar biasa seperti dulu lagi bakal sulit terulang.
Kondisi yang sangat rumit inilah memberikan keyakinan pada Mauro Sanchini, komentator teknis Sky Sport Italia, bahwa era Marquez telah berakhir. Menurutnya pemilik nomor start 93 itu akan tenggelam diganti oleh banyaknya pembalap muda yang kini mewarnai MotoGP.
“Marquez adalah pembalap luar biasa yang sulit terkalahkan di lintasan, tapi sekarang semuanya berubah dalam dua tahun ini,” tegas Sanchini.
Kerap terjatuh hingga puluhan kali dalam semusim namun segera bangkit, itu adalah ciri khas Marc Marquez di masa jayanya. Dalam setiap kebangkitannya, selalu berubah dengan akhir yang manis dengan raihan podium pertama. Menunjukkan bahwa sesi-sesi latihan bebas dimanfaatkan Marquez untuk mencapai limitnya. Dengan mengetahui batas kemampuan dirinya, tak mengherankan dia mampu tampil maksimal ketika balapan.
Rasa percaya diri yang tinggi itulah yang justru menjadi blunder ketika Marquez memaksakan diri turun balapan ketika tangannya baru saja dioperasi. Cederanya bertambah parah dan dia pun menyerah istirahat lebih dari semusim dan berimbas di musim berikutnya.
“Sekarang kemujuran dan keperkasaannya telah hilang setelah dia dibekap beragam cedera,” pungkas Sanchini.
Kini tinggal menanti kabar recovery dari Honda. Semoga saja pembalap andalannya itu bisa kembali pulih di tahun depan. (anto)














