Otoplasa.com – Mercedes menggunakan mesin BMW? Tentu kolaborasi tak biasa! Dan kini jadi perbincangan hangat di internal duo pabrikan Bavaria dan pengamat otomotif.
Ya, Mercedes-Benz dikabarkan tengah bernegosiasi dengan BMW terkait penggunaan mesin empat silinder pada model mendatang. Mesin ini diproyeksikan dipasang di berbagai lini kendaraan global Mercedes-Benz.
Praktik berbagi mesin antar pabrikan otomotif sebenarnya bukan hal baru. Toyota Supra modern misalnya, menggunakan mesin produksi BMW. Sementara Toyota GR86 dibekali mesin dari Subaru.
Banyak Pabrikan Pakai BMW
Dari yang sudah terjadi, selain Toyota, pabrikan lainnya yang mengadopsi dapur pacu dari BMW lumayan banyak. Diantaranya McLaren F1 dengan mesin V12 6,1 liter non turbo, serta Land Rover Defender 2.8i yang mempercayakan pada mesin BMW M52 2,8 liter (model BMW 528i E39). Selain itu Defender 90 dan 110, juga memakai tenaga penggerak dari diesel BMW. Hal wajar karena saat itu BMW memiliki saham Land Rover. Termasuk Land Rover Range Rover P38A yang juga menggunakan mesin dari BMW.
Pengguna mesin BMW lainnya adalah Daihatsu Rocky. Iya, yang mendapatkan sentuhan dari rumah modifikasi Jepang, didesain orang Italia, Bertone yang diberi nama Freeclimber. Memakai mesin BMW, 2,0 dan 2,7 liter bensin serta 2,4 liter turbodiesel, dan dipasarkan di Perancis.
Yang paling berkesan adalah Rolls Royce Phantom. Mengusung mesin BMW V12 berkapasitas 6,7 liter dengan daya 460 hp.
Jadi banyak alasan bagi Mercedes-Benz untuk mempercayakannya pada kompetitornya sendiri, BMW. Padahal Mercy sendiri juga pernah memanfaatkan mesin dari Nissan dan Renault, terutama pada SUV serta van. Bahkan Geely asal Tiongkok mulai memasok mesin 2.0 liter empat silinder untuk merek Jerman ini. Namun, penggunaan mesin rakitan Tiongkok dinilai berisiko di pasar Amerika Serikat. Karena itu, Mercedes mencari alternatif dari BMW.
Pengumuman Kolaborasi Sebelum Akhir Tahun
Menurut laporan Autocar, Mercedes dan BMW telah berada di tahap perencanaan tinggi. Pengumuman resmi kemungkinan dilakukan sebelum akhir 2025. BMW sendiri belum memberikan komentar terkait isu ini.
Kesepakatan ini disebut sebagai langkah strategis untuk memangkas biaya pengembangan mesin. Bagi Mercedes-Benz, hal ini juga memastikan ketersediaan mesin yang sesuai regulasi Euro 7. Mesin ini penting untuk melanjutkan lini kendaraan bermesin bensin sekaligus memperkuat penawaran plug-in hybrid.
Mercedes saat ini sedang memperkenalkan mesin turbo 1.5 liter M252 buatan internal di Jerman. Mesin tersebut diproduksi di Tiongkok oleh Horse, perusahaan patungan Geely dan Renault. Mesin M252 sudah digunakan pada CLA terbaru dengan tiga pilihan tenaga: 136 hp, 163 hp, dan 190 hp.
Sementara mesin BMW yang jadi pilihan adalah M252 karena mampu mendukung teknologi plug-in hybrid maupun range extender. Hal ini memungkinkan Mercedes memenuhi aturan emisi ketat Eropa sekaligus menghindari kendala pasokan antara AS dan Tiongkok.
Untuk Ragam Model Mercedes-Benz
Manager Magazin melaporkan mesin BMW yang dimaksud kemungkinan berbasis unit B48 berkapasitas 2.0 liter turbo. Mesin ini akan dipasang pada berbagai model mulai dari CLA, GLA, GLB, C-Class, E-Class, hingga GLC.
Perakitan mesin diperkirakan berlangsung di pabrik BMW di Steyr, Austria. Mesin tersebut dirancang fleksibel untuk layout memanjang maupun melintang. Model pertama dengan mesin ini diperkirakan meluncur pada 2027.
Langkah ini menandai kolaborasi tak biasa antara dua rival besar Jerman. Mercedes diduga harus mengambil keputusan cepat karena strategi elektrifikasi yang terlalu dini. Meski tetap berinvestasi pada kendaraan listrik, merek ini masih membutuhkan mesin konvensional guna menjaga volume penjualan.
Jadi tak selamanya kompetitor itu saling bersaing mati-matian. Buktinya Mercedes dan BMW semakin akur dengan kondisi pasar dunia yang dinamis. (ton)









