otoplasa.com, Tokyo – Dua produsen kendaraan niaga asal Jepang, Mitsubishi Fuso Truck and Bus Corp, dan Hino Motors Ltd dilaporkan hampir mencapai kesepakatan final untuk melakukan merger. Rencana integrasi ini merupakan bagian dari upaya memperkuat daya saing global menghadapi tekanan dari produsen Tiongkok serta hambatan perdagangan seperti tarif impor Amerika Serikat.
Kedua perusahaan sebelumnya menandatangani kesepakatan awal pada Mei 2023 bersama induk usaha masing-masing, yakni Toyota Motor Corp (pemilik Hino) dan Daimler Truck dari Jerman (pemilik Mitsubishi Fuso). Rencana awal mengarah pada pembentukan perusahaan induk bersama yang akan mencatatkan sahamnya di Prime Market Bursa Efek Tokyo pada April 2026.
Jika merger ini terealisasi, lanskap industri kendaraan komersial di Jepang akan terbagi menjadi dua kelompok besar, Hino-Mitsubishi Fuso dan Isuzu Motors bersama UD Trucks.
Langkah integrasi ini ditujukan untuk mempercepat investasi dalam teknologi ramah lingkungan, seperti pengembangan kendaraan listrik, seiring dengan tuntutan global untuk mendukung dekarbonisasi. Dengan menyatukan skala operasi, kedua perusahaan berharap dapat meningkatkan efisiensi dan daya saing di pasar internasional.
Namun, proses merger sempat tertunda tanpa batas waktu pada Februari 2024. Penundaan ini dipicu oleh beberapa kendala, termasuk gugatan class action di Amerika Utara terhadap Hino akibat pemalsuan sertifikasi mesin yang terungkap pada 2022. Kasus tersebut menimbulkan kekhawatiran akan beban kompensasi besar yang harus ditanggung Hino.
Selain itu, besarnya pangsa pasar Hino dan Mitsubishi Fuso di Jepang dan Asia Tenggara menyebabkan proses mendapatkan izin dan persetujuan dari otoritas pengawas berjalan lebih lambat dari yang diperkirakan.
Setelah serangkaian sengketa hukum mendekati penyelesaian, termasuk tercapainya kesepakatan penyelesaian atas gugatan di Amerika Utara, kedua perusahaan kembali menghidupkan rencana integrasi. Toyota dan Daimler Truck kini berencana membentuk perusahaan induk bersama yang akan mengendalikan kedua entitas tersebut, sesuai rencana awal. Keduanya juga diperkirakan akan memiliki porsi saham yang seimbang di perusahaan baru tersebut.
Alasan Banyak Pabrikan Otomotif Jepang Memilih Merger
Merger antarperusahaan otomotif, khususnya di sektor kendaraan niaga, semakin marak terjadi di Jepang. Fenomena ini didorong oleh beberapa faktor utama:
1. Skala Ekonomi dan Efisiensi Biaya
Merger memungkinkan perusahaan untuk menggabungkan sumber daya, memperluas jaringan produksi dan distribusi, serta menurunkan biaya melalui efisiensi operasional.
2. Investasi Teknologi dan Inovasi
Persaingan dalam pengembangan kendaraan ramah lingkungan seperti truk listrik dan berbahan bakar hidrogen membutuhkan investasi besar. Merger menjadi strategi untuk berbagi beban investasi dan mempercepat inovasi.
3. Tekanan Global dan Perubahan Regulasi
Regulasi emisi dan tren elektrifikasi memaksa produsen untuk bertransformasi cepat. Merger membantu perusahaan lebih lincah dalam merespons regulasi global yang terus berubah.
4. Ancaman dari Pesaing Tiongkok
Produsen Tiongkok berkembang pesat dengan harga kompetitif dan teknologi yang semakin canggih. Pabrikan Jepang harus memperkuat posisi mereka di pasar Asia untuk tetap relevan.
5. Kondisi Demografis dan Pasar Domestik
Penurunan populasi dan permintaan di pasar domestik Jepang mendorong perusahaan untuk berekspansi ke luar negeri dengan strategi kolaboratif.
Melalui merger, perusahaan-perusahaan ini berharap tidak hanya bertahan, tetapi juga menjadi pemimpin di era kendaraan komersial yang lebih hijau. (boi)















