Otoplasa.com – Industri otomotif nasional menutup tahun 2025 dengan catatan positif. Data resmi Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan penjualan mobil baru sepanjang Januari–Desember 2025 berhasil melampaui target awal 780 ribu unit, baik dari sisi retail sales maupun wholesales.
Secara retail sales (penjualan dari diler ke konsumen), pasar otomotif Indonesia mencatatkan angka 833.692 unit. Sementara itu, wholesales (distribusi dari pabrik ke diler) berada di level 803.687 unit. Capaian ini sekaligus menegaskan pemulihan dan stabilitas pasar otomotif nasional di tengah dinamika ekonomi global.
Toyota Masih Tak Tergoyahkan di Puncak
Dalam daftar 20 merek mobil terlaris 2025, Toyota kembali mengukuhkan diri sebagai pemimpin pasar. Pabrikan asal Jepang tersebut membukukan retail sales 258.268 unit, dengan pangsa pasar 31,1 persen.
Posisi kedua ditempati Daihatsu yang sukses mempertahankan performa penjualannya dengan 137.835 unit atau 16,5 persen market share. Honda berada di urutan ketiga dengan 71.233 unit, disusul Mitsubishi Motors yang mencatatkan 70.338 unit.
Lima besar merek mobil terlaris 2025 ditutup oleh Suzuki dengan penjualan 64.838 unit atau 7,8 persen pangsa pasar.
Merek China dan EV Kian Menguat
Menariknya, merek-merek asal China semakin menunjukkan taring di pasar Indonesia. BYD berhasil finis di posisi keenam dengan 44.342 unit, terdorong oleh meningkatnya minat terhadap kendaraan listrik, termasuk model yang disebut menjadi primadona pasar.
Wuling berada di peringkat ketujuh dengan 20.607 unit, diikuti Hyundai (19.664 unit) dan Chery (19.485 unit). Sementara itu, VinFast melengkapi daftar 10 besar dengan penjualan 10.630 unit sepanjang 2025.
Lonjakan Penjualan di Akhir Tahun Jadi Kunci
Gaikindo menilai lonjakan penjualan menjelang akhir tahun menjadi faktor utama tercapainya target tahunan. Pada Desember 2025, penjualan retail mobil mencapai 93.833 unit, tertinggi sepanjang tahun.
Angka tersebut naik 18,3 persen atau 14.485 unit dibandingkan November 2025 yang mencatatkan 79.348 unit. Bahkan, performa Desember 2025 juga jauh melampaui Desember 2024 yang hanya berada di level 76.473 unit.
Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto, menyebut berakhirnya sejumlah insentif otomotif menjadi pemicu lonjakan pembelian. “Ada beberapa insentif yang berakhir di Desember,” ujar Jongkie Sugiarto, Ketua I Gaikindo.
Menurut Gaikindo, ketidakpastian kelanjutan insentif otomotif di 2026 justru mendorong konsumen untuk mempercepat keputusan pembelian sebelum akhir tahun.
Perbandingan Penjualan Mobil 2024 dan 2025
Jika dibandingkan dengan 2024, performa pasar otomotif nasional di 2025 menunjukkan tren positif. Pada 2024, penjualan retail tercatat masih berada di kisaran sekitar 800 ribu unit, sementara wholesales belum menembus angka 800 ribu unit secara konsisten.
Di 2025, retail sales melonjak menjadi 833.692 unit, sedangkan wholesales mencapai 803.687 unit. Artinya, baik dari sisi permintaan konsumen maupun distribusi pabrikan, pasar otomotif Indonesia mengalami pertumbuhan yang lebih solid dibandingkan tahun sebelumnya.
Insentif Mobil Listrik Jadi Faktor Penting
Perlu diketahui, salah satu insentif yang berakhir pada 2025 adalah subsidi mobil listrik impor berstatus Completely Built Up (CBU). Merek penerima insentif diwajibkan melakukan perakitan lokal sesuai dengan jumlah unit CBU yang terjual.
Apabila kewajiban tersebut tidak terpenuhi, harga jual kendaraan listrik berpotensi mengalami kenaikan. Kondisi ini turut mendorong konsumen untuk membeli mobil listrik sebelum insentif berakhir.
Prospek 2026 Masih Menjadi Tanda Tanya
Dengan capaian positif di 2025, industri otomotif nasional menatap 2026 dengan optimisme yang tetap dibarengi kewaspadaan. Kepastian kebijakan insentif, stabilitas ekonomi, serta daya beli masyarakat akan menjadi faktor penentu apakah tren positif ini dapat berlanjut.
Namun satu hal yang pasti, Toyota masih menjadi raja pasar, sementara persaingan di segmen kendaraan listrik dan merek asal China diprediksi akan semakin sengit di tahun-tahun mendatang. (ton)









