otoplasa.com – Rendah hati dan tak pernah menyalahkan motor, itulah penilaian Ducati terhadap pembalap anyarnya, Marc Marquez. Kondisi ini berbeda bagai bumi dan langit atau 180 derajat dengan Francesco ‘Pecco’ Bagnaia yang kerap menyikapi kesalahan ada pada motor Ducati GP25!
Demikian kondisi kepindahan Marc Marquez ke tim pabrikan Ducati Lenovo menjadi salah satu momen paling menyita perhatian di musim MotoGP 2025. Tak hanya membawa talenta luar biasa sebagai juara dunia delapan kali, Marquez juga menunjukkan sikap profesional dan kerendahan hati yang menginspirasi, bahkan bagi tim teknis sekalipun.
Salah satu sosok di balik layar yang kini bekerja langsung dengan Marquez adalah Marco Rigamonti, sang track engineer yang sebelumnya dikenal mendampingi beberapa nama besar di MotoGP. Dalam wawancara eksklusif bersama kanal YouTube #ZamTube, seperti dikutip dari Motosan, Rigamonti membeberkan pengalamannya bekerja dengan rider asal Spanyol tersebut.
“Berapa banyak pembalap dalam sejarah yang punya catatan seperti dia? Sangat sedikit,” ujar Rigamonti.
“Ini kesempatan yang mungkin hanya terjadi sekali dalam hidup.”
Meski tekanan besar menyertai pekerjaan bersama sosok sebesar Marquez, Rigamonti justru merasa sangat termotivasi, dan untunglah bukan ketakutan. “Kamu harus berada di levelnya, tak boleh membuat kesalahan, dan harus selalu siap 100 persen,” tegasnya.
Namun bukan hanya soal kecepatan dan teknik membalap yang membuat Rigamonti terkesan. Justru, sisi personal Marquez yang rendah hati dan hangat menjadi nilai lebih yang membedakan. “Kita bisa saja membayangkan seorang juara dunia delapan kali akan arogan. Tapi nyatanya, dia sangat menyenangkan, suka bercanda, dan membuat suasana di pit seperti pesta,” ungkapnya.
Satu hal yang benar-benar mencolok adalah bagaimana Marquez menyikapi kegagalan. Berbeda dengan banyak pembalap lain yang kerap menyalahkan performa motor saat gagal finis atau kalah cepat, Marquez justru memilih untuk introspeksi.
“Dia sering berkata, ‘Mungkin saya yang salah, bukan motornya.’ Dia akan lebih dulu mencoba memperbaiki gaya balapnya sebelum menunjuk kesalahan pada motor,” jelas Rigamonti.
Sikap ini menjadi kontras dengan rekan satu timnya, Francesco Bagnaia, yang dikenal lebih sering menyoroti kinerja motor jika gagal meraih hasil maksimal di lintasan. Pecco kerap mengeluhkan setelan motor atau masalah teknis sebagai penyebab kegagalannya. Hal ini menjadikan Marquez sebagai sosok langka di paddock MotoGP, seorang juara yang tidak hanya cepat di lintasan, tetapi juga matang secara emosional.
Kini, dengan perpaduan pengalaman teknis tim Ducati dan pendekatan personal Marquez yang luar biasa, publik MotoGP menanti apakah kombinasi ini akan kembali membawanya ke puncak kejayaan. Namun satu hal sudah pasti, kehadiran Marc Marquez telah membawa energi baru dan semangat positif di garasi Ducati Lenovo. (boi)









