otoplasa.com – Ada pengalaman menarik ketika Otoplasa mendapatkan undangan menjajal beragam merek premium Italia yang berada di bawah payung PT Piaggio Indonesia, tepatnya di Dealer Premium Motoplex 4 Brand di Jalan Sulawesi No 53, Gubeng, Surabaya beberapa waktu lalu. Bila jajaran merek dan model Piaggio maupun Vespa sudah sangat familiar, karena sudah hal biasa berlalu-lalang di jalanan Indonesia, bagaimana dengan Moto Guzzi dan Aprilia?
Lihat postingan ini di Instagram
Maklum sebagai merek Eropa papan atas, tentu yang terbayang bagaimana kira-kira pengendaliannya ketika dinaiki oleh orang berpostur Asia atau tepatnya Indonesia. Dengan tinggi badan antara 160 -170 cm atau rata-rata 165 cm, pasti ada keraguan kesulitan menaiki motor yang ukurannya bongsor terutama yang Moto Guzzi. Namun berkat adanya undangan test ride dari PT Piaggio Indonesia, ternyata bayangan kesulitan berganti menjadi kesenangan dan kenyamanan yang boleh dikatakan di atas rata-rata motor pada umumnya.

Tak percaya?
Oke yang kita bahas pertama yang wujudnya sangat menyita perhatian berkat tampilannya yang bongsor adalah Moto Guzzi V85 TT Travel. Motor bergenre adventure touring berkapasitas 883 cc V-Twin berdaya 76 hp (7500 rpm) dan torsi maksimal 82 Nm (5000 rpm) ini bisa membikin grogi yang berpostur tubuh di rentang 160-an cm. Tentu ada keengganan untuk menaikinya karena takut terjatuh.
Tapi untungnya berkat pengalaman test ride ramai-ramai seluruh model merek premium bawaan PT Piaggio Indonesia di jalanan Surabaya, maka anggapan bahwa motor gede sulit dikendalikan sirna. Moto Guzzi V85 TT Travel benar-benar memiliki segitiga ergonomis yang bisa membikin siapa saja yang menaikinya merasa nyaman enggan turun. Ditunjang jok lebar yang empuk, alhasil motor ini memang asyik diajak jalan-jalan sore.

Lalu apa sih segitiga ergonomis itu?
Segitiga ergonomis adalah pertemuan tiga titik, antara stang (handlebar), jok dan tumpuan kaki. Disebut ergonomis bila pengendara tak cepat merasa pegal dan itulah yang terasa ketika menaiki Moto Guzzi V85 TT Travel. Artinya jika kita semakin nyaman berada di motor ini, maka semakin bergunalah motor ini sebagai teman perjalanan, terutama bagi penggemar adventure touring.
Kelebihan utamanya di sektor kenyamanan adalah suspensinya yang empuk seakan menyerap bobot tubuh pengendara hingga menjadikan tinggi bodi motor ini turun. Dampaknya satu kaki bisa menapak sempurna tanpe harus berjinjit.
Andai para crazy rich Surabaya yang berpostur ala Asia pada umumnya ada keberanian untuk menjajal motor ini tanpa harus segan melihat sosoknya yang bongsor khas motor Eropa, Otoplasa yakin mereka tak akan ragu memboyongnya pulang. Moto Guzzi V85 TT Travel benar-benar akomodatif menerima segala postur tubuh!

“Pertama yakin dulu untuk naik motor ini karena bodinya yang lumayan gede. Ternyata setelah beberapa menit dinaiki sensasinya sangat luar biasa. Terutama deru mesin V-Twinnya dan tarikan penggerak roda belakangnya yang memakai gardan. Benar-benar seru semoga di lain kesempatan bisa dijajal ke jalanan luar kota,” kata Handi Cahyono, rekan media dari Otojatim yang menunggangi Moto Guzzi V85 TT.
Tak kalah menarik komentar jurnalis Otoplus-online, Nugroho Sakri Yunarto. Menurutnya harga Moto Guzzi V85 TT Travel Rp 710 juta sangat kompetitif dibandingkan merek motor Eropa lainnya yang bergenre serupa. “Dibandingkan merek lainnya yang mencapai semiliar lebih, Moto Guzzi V85 TT Travel lebih value for money,” terangnya.

Oh ya ada catatan menarik lainnya dari sesi tes ride ramai-ramai ini, bila Moto Guzzi V85 TT Travel telah mengusung segitiga ergonomis yang mumpuni, bagaimana dengan saudaranya Moto Guzzi V7 Stone?
Ternyata sensasinya juga tak kalah. Maklum saja Moto Guzzi V7 Stone yang bodinya sesungguhnya lebih kecil dibandingkan Moto Guzzi V85 TT Travel, juga menawarkan segitiga ergonomis yang juga cocok untuk postur ala kita-kita. Jadi klop semua model Moto Guzzi cocok untuk postur Indonesia.
Ssst lalu bagaimana dengan Aprilia yang lebih mencerminkan motor bergenre sport?
Harus diakui tingkat kenyamanan segitiga ergonomisnya masih berada di bawah Moto Guzzi, karena Aprilia mengusung DNA balap. Namun yang menarik teman media Fikri dari Tribun News yang naik Aprilia Shiver 900 mengakui tak cepat lelah. Posisi handle bar yang tinggi dan jok yang nyaman serta kedua kaki yang bisa menapak aspal dengan sempurna membikinnya ketagihan.

“Enak juga nih motor saat diajak jalan-jalan sore di Surabaya. Posisi duduknya nyaman dan mudah sekali dikendalikan, bahkan persneling cukup gigi 1 dan 2 jadi kaki tak bikin cepat pegal karena pindah gigi,” kata Fikri sambil tertawa.
Nah terungkap sudah seperti apa rasanya menaiki motor gede premium ala Moto Guzzi dan Aprilia. Beragam varian model dan tipenya ternyata sangat familiar dengan postur tubuh khas Indonesia. Jadi eksistensi PT Piaggio Indonesia selama 10 tahun di Indonesia dengan menghadirkan Vespa dan Piaggio lebih dulu dan berlanjut kepada Moto Guzzi dan Aprilia telah memahami kita-kita dengan sangat baik.
The Amazing Journey Continues pun berlanjut. (boi)









