Fitur Irit Suzuki Fronx Bikin Ribet

Performa Mesin Fokus Kejar Keiritan

Otoplasa.com – Usai dua hari menjajal performa Suzuki Fronx tipe SGX Hybrid dari UMC Suzuki Ahmad Yani, Surabaya, Otoplasa mengakui bahwa SUV compact yang mengejar keiritan ini performa mesinnya kurang gahar untuk berakselerasi menembus padatnya jalanan Kota Pahlawan, terutama di saat pagi dan sore hari.

Tiap kali pedal gas diinjak, seperti terasa ada jeda. Sensasi mesin 1500 cc berkode K15C ini berkarakter kalem. Perlu injakan gas lebih dalam supaya rpm mesin bisa segera terangkat ke kitiran 2.500. Bila itu telah tercapai, maka akselerasi dan performanya mulai meningkat. Terutama ketika baterai litium-ionnya turut beroperasi membantu berakselerasi.

Hanya saja di jalanan yang padat seperti Surabaya, kondisi gas dan rem kerap terjadi. Bila pedal rem terinjak, maka sontak terjadi efek deselerasi untuk memberikan asupan daya kepada baterai. Dan ini kembali perlu waktu lagi ke performa optimal saat pedal gas diinjak. Intinya perlu waktu beberapa detik untuk mengajak Suzuki Fronx lebih galak akselerasinya.

Terungkap Karakter Suzuki Fronx Hybrid
Itulah gambaran karakter performa mobil ini bila menggunakan tuas di posisi D yang menganut daya transmisi 6AT, yang mana lebih halus dan mengutamakan efisien pada kecepatan tinggi. Kini giliran memindahkan transmisi ke mode manual, tentunya dengan memanfaatkan paddle shift di belakang lingkar kemudi. Jari tangan kiri menurunkan gigi, dan sebaliknya kanan untuk menambah percepatan.

Di sini bagi driver yang gemar berakselerasi agresif sangat membantu. Proses perpindahan gigi via jemari tangan kiri dan kanan, cukup menyenangkan tapi belum fun to drive. Dari putaran rpm mesin rendah, sedang hingga tinggi lebih mudah ditentukan. Hanya saja cara ini sangat berpengaruh besar terhadap konsumsi bbm. Saat melihat di layar, MID menunjukkan rata-rata konsumsi perliternya menjadi 11 km.

Tentu jumlah konsumsi bbm seperti di atas bukanlah yang diharapkan Suzuki. Sebagai mobil yang telah mengklaim dan menganut sistem hybrid (namun masih tingkat ‘Mild’), jumlah konsumsi bbm ini bagaikan pada mobil pada umumnya di kelas mesin 1500 cc. Namun karena Otoplasa mengkombinasikan sistem mode transmisi manual dan matic secara bergantian, ditambah kondisi jalanan Surabaya, maka hasil rata-rata yang diperoleh adalah 15 km/liter.

Cukup fair mengingat posisi AC pada kondisi maksimal karena suhu kota Surabaya sedemikian panasnya saat pengujian. Selain itu mobil berisi tiga penumpang dewasa.

Engine Auto Stop, Jangan Panik
Sebagai mobil yang dirancang mengejar keiritan bbm, kiat Suzuki lainnya adalah menambahkan fitur Engine Auto Stop. Jadi saat mobil berhenti, mesin akan mati secara otomatis, hembusan AC menjadi tidak dingin dan terasa anginnya saja. Di sisi lain, lingkar kemudi terasa berat alias tidak bisa diputar.

Bagi driver yang baru bisa mengemudi dan ingin merubah posisi mobil, khususnya di pemberhentian lampu merah lalu lintas, tentu hal ini terkadang membikin panik. Mobil seakan tak ada respon, karena memang mesin sedang mati. Biar tak cemas, caranya saat pedal rem masih diinjak, pindahkan tuas ke posisi N, maka usai pedal rem dilepas, mesin kembali aktif, hembusan AC kembali dingin, dan lingkar kemudi telah dapat digerakkan.

Namun bagi yang tak ingin ribet, fitur Engine Auto Stop dapat dinon-aktifkan. Cukup dengan menekan tombol berhuruf A di dalam lingkaran, yang berada di bawah lubang AC sebelah kanan pengemudi. Tapi ingat fitur ini diatur secara default, jadi akan selalu aktif setiap kali mobil di start kali pertama.

Tenang Ada Pilihan Fronx GL
Sebagai mobil yang telah mengusung beragam kecanggihan dan fitur terkini, tentu ada sebagian yang merasa tidak cocok dengan kebutuhan konsumen. Ambil contoh sistem ADAS yang menempel di varian Fronx SGX, kerap memberikan peringatan terutama saat di jam-jam macet. Motor yang bersliweran dan terkadang memotong secara tiba-tiba di depan mobil, memunculkan reaksi pintar pada mobil, seperti bunyi-bunyian peringatan dan bahkan mobil mengerem sendiri.

Bagi yang tak berkenan dengan fitur di atas, untungnya Suzuki Fronx menawarkan varian GL, yang non hybrid dan bertransmisi manual. Anda tak perlu terganggu dengan fitur ADAS maupun Engine Auto Stop, dan tetap bisa memainkan putaran mesin sesuka kemauan. Menariknya lagi harganya lebih murah hingga selisih mencapai Rp 50 jutaan!

Adapun rincian harganya tiap model Suzuki Fronx adalah sebagai berikut:
– Fronx GL M/T 267.000.000
– Fronx GL A/T 279.000.000
– Fronx GX M/T 283.900.000
– Fronx GX A/T 301.800.000
– Fronx SGX A/T 327.800.000
– Fronx SGX 2 Tone A/T 329.800.000

Jadi bagaimana mau ikut trend kecanggihan fitur terkini pada mobil atau lebih ke arah konvensional, yang kendali mobil sepenuhnya ada di tangan Anda? (boi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *