Otoplasa.com – Kebijakan tarif tambahan impor kendaraan yang digulirkan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sepanjang 2025 terbukti memberi tekanan besar pada industri otomotif global, termasuk pabrikan asal Jepang. Meski demikian, data terbaru menunjukkan penjualan mobil Jepang di Negeri Paman Sam masih mampu mencatat pertumbuhan, didorong lonjakan permintaan di awal tahun dan kuatnya pasar kendaraan hybrid.
Berdasarkan data yang dirilis Senin (waktu setempat), total penjualan enam pabrikan otomotif Jepang di Amerika Serikat sepanjang 2025 mencapai 6,02 juta unit, naik 2,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini terjadi di tengah bayang-bayang kebijakan tarif otomotif baru yang diumumkan pemerintahan Trump.
Lonjakan permintaan terjadi pada awal tahun, ketika konsumen berbondong-bondong membeli kendaraan sebelum tarif tambahan resmi diberlakukan. Selain itu, belanja konsumen kelas atas tetap stabil seiring menguatnya pasar saham AS, sehingga menopang penjualan kendaraan di segmen menengah hingga premium.
“Permintaan sangat kuat untuk model-model utama kami seperti SUV RAV4, serta sedan Camry dan Corolla,” ujar pejabat Toyota Motor dalam pernyataan resminya, seraya menambahkan bahwa performa Lexus di AS juga mencetak rekor penjualan tertinggi sepanjang sejarah merek tersebut.
Hybrid Jadi Penyelamat di Tengah Tekanan Tarif
Kebijakan tarif Trump dinilai paling berdampak pada kendaraan bermesin konvensional dengan rantai pasok global. Namun, pabrikan Jepang relatif lebih siap karena portofolio kendaraan hybrid mereka yang kuat dan sudah lama diterima pasar AS.
Toyota Motor mencatatkan penjualan 2,52 juta unit, tumbuh signifikan sebesar 8,0 persen. Selain model populer, lini kendaraan hybrid Toyota menjadi salah satu kontributor utama, seiring meningkatnya minat konsumen terhadap mobil yang lebih efisien bahan bakar di tengah ketidakpastian ekonomi dan harga.
Honda Motor juga berhasil membukukan pertumbuhan, meski tipis. Penjualan Honda naik 0,5 persen menjadi 1,43 juta unit. Capaian ini diraih meski Honda sempat menghadapi perlambatan akibat gangguan pasokan semikonduktor.
“Kami tetap mampu mencatatkan pertumbuhan penjualan tahunan meski tekanan pasokan masih terasa di paruh tertentu tahun ini,” ungkap manajemen Honda Motor.
Sementara itu, Nissan Motor membukukan penjualan 926.153 unit, naik tipis 0,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Pabrikan Tertekan, Ketimpangan Ekonomi Berperan
Berbeda dengan tiga raksasa Jepang tersebut, pabrikan dengan skala lebih kecil justru terdampak lebih besar oleh kebijakan tarif dan ketimpangan daya beli konsumen AS.
Subaru mencatat penurunan penjualan sebesar 3,6 persen menjadi 643.591 unit. Mazda juga mengalami koreksi 3,3 persen dengan total penjualan 410.346 unit. Penurunan paling tajam dialami Mitsubishi Motors, yang penjualannya anjlok 13,7 persen menjadi 94.754 unit.
Pengamat industri menilai, pabrikan besar dengan jajaran produk luas dan rentang harga beragam lebih diuntungkan dalam situasi ekonomi AS yang makin terpolarisasi, terutama ketika kebijakan tarif mendorong kenaikan harga kendaraan.
Dominasi Pabrikan AS Masih Terjaga
Di sisi lain, pabrikan domestik Amerika Serikat masih menunjukkan dominasi. General Motors (GM) diperkirakan mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar otomotif AS untuk tahun keempat berturut-turut, dengan penjualan naik 5,5 persen menjadi 2,85 juta unit sepanjang 2025.
Meski penjualan mobil Jepang masih tumbuh, kebijakan tarif Presiden Trump tetap menjadi faktor risiko besar ke depan. Jika tarif diperluas atau diperketat, tekanan terhadap harga jual dan daya saing pabrikan Jepang di AS diprediksi akan semakin besar, terutama bagi merek dengan volume dan skala produksi yang lebih kecil. (ton)









