Otoplasa.com – Suzuki Motor Corporation bersiap mengubah cara menjual kendaraan di India, pasar terbesarnya di dunia. Selain memberikan kemudahan bagi rakyat India untuk memiliki mobil, Suzuki juga telah menyiapkan skema kredit spesial.
Pabrikan otomotif Jepang yang telah mengalokasikan produksi mobilnya di Negeri Sari ini benar-benar mengubah strategi penjualannya. Suzuki telah menyiapkan skema pembiayaan hingga target produksi 4 juta unit. Perubahan strategi ini dipicu oleh pergeseran perilaku konsumen, kebijakan pajak barang dan jasa (Goods and Services Tax/GST), serta meningkatnya minat terhadap kendaraan listrik dan mobil bernilai tinggi.
Presiden Suzuki Motor Corporation, Toshihiro Suzuki, mengatakan bahwa India kini memasuki fase baru dalam industri otomotif, di mana pembiayaan kendaraan menjadi semakin penting. “Kami ingin mengubah cara kami menjual kendaraan di India,” ujar Toshihiro Suzuki, pada wawancara dengan Nikkei dan sejumlah media internasional.
Fokus Peluncuran EV dan Strategi 2026
Memasuki 2026, Suzuki menyiapkan langkah strategis dengan meluncurkan e Vitara, kendaraan listrik (EV) pertama Suzuki untuk pasar global, termasuk India. Selain itu, Suzuki juga akan memperkenalkan kei car listrik, segmen mobil mungil yang selama ini menjadi kekuatan Suzuki di Jepang.
“Kami akan meluncurkan e Vitara dan sebuah kei car listrik. Perubahannya sangat cepat, termasuk pada kendaraan berbahan bakar bensin, dan konsumen kini lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang mereka,” kata Toshihiro.
Ia menegaskan Suzuki tidak mengandalkan strategi rahasia, melainkan fokus menonjolkan keunggulan produk secara realistis dan sesuai kebutuhan pasar.

Manfaatkan Perubahan GST dan Perluas Pembiayaan
Suzuki melihat perubahan kebijakan GST di India sebagai peluang besar untuk meningkatkan pangsa pasar. Menurut Toshihiro struktur pajak yang lebih fleksibel membuat sebagian masyarakat yang sebelumnya tidak mampu membeli mobil, kini mulai mempertimbangkannya.
“Orang-orang yang sebelumnya berpikir tidak mampu membeli mobil, kini mulai merasa mungkin mereka bisa membelinya,” ujarnya.
Suzuki akan menyesuaikan produk dengan sistem pajak baru tersebut, termasuk mengevaluasi apakah harus terus fokus pada SUV, segmen paling populer di India atau mengembangkan model lain yang lebih relevan. Termasuk meningkatnya penjualan EV dan kendaraan premium, Suzuki juga akan memasukkan skema pembiayaan sebagai bagian penting dari metode penjualannya.
“Dengan meningkatnya kendaraan listrik dan mobil bernilai tinggi, pembiayaan akan menjadi elemen yang tidak terpisahkan dari cara kami menjual kendaraan,” tegas Toshihiro.
Target Produksi 4 Juta Unit: Tantangan Baru Suzuki
Di India, Suzuki melalui anak usahanya Maruti Suzuki menargetkan kapasitas produksi hingga 4 juta unit per tahun. Angka ini jauh melampaui kapasitas pabrik Suzuki di Jepang.
“Satu kompleks pabrik di India bisa memiliki kapasitas 1 juta unit per tahun, setara dengan gabungan tiga pabrik kami di Kosai, Iwata, dan Sagara di Jepang. Ini adalah wilayah yang belum pernah kami jelajahi,” ungkap Toshihiro.
Ia mengakui tantangan ke depan tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyangkut infrastruktur dan sumber daya manusia. “Hal-hal sederhana seperti ketersediaan tempat parkir bagi karyawan yang mulai menggunakan sepeda motor atau mobil bisa menjadi kendala. Ini tantangan nyata yang mungkin baru kami sadari ke depannya,” jelasnya yang memastikan Suzuki berkomitmen menjaga komunikasi yang kuat antara manajemen dan pekerja untuk mengatasi tantangan tersebut.
Reorganisasi Kantor Pusat Suzuki di Jepang
Selain fokus India, Suzuki juga melakukan restrukturisasi internal dengan memusatkan fungsi utama di kantor pusat Hamamatsu, Prefektur Shizuoka. Langkah ini bertujuan meningkatkan kolaborasi antar divisi, khususnya dalam pengembangan kendaraan.
“Ruang kantor pusat kami sudah penuh, dan kami perlu meningkatkan lingkungan kerja. Karena itu, kami mengamankan lahan besar di dekat Stasiun JR Hamamatsu,” terang Toshihiro.
Area baru tersebut akan difokuskan untuk departemen administrasi, sementara fasilitas pengujian dan evaluasi kendaraan akan dikonsolidasikan di pabrik Sagara. “Kami ingin menciptakan sistem di kawasan kantor pusat, termasuk gedung eksperimen, agar staf teknis dan tim pengembangan kendaraan dapat bekerja sama dengan lebih efektif,” tutupnya. (boi)















