Otoplasa.com – Terungkap hosting fee (biaya penyelenggaraan/komitmen) gelaran MotoGP Sepang, Malaysia yang mencapai RM457 atau sekitar Rp1,69 triliun. Biaya tersebut selama lima tahun yang berlaku dari 2027-2031. Bagaimana dengan Mandalika, Indonesia?
Ya, Pemerintah Malaysia telah memperpanjang kontrak penyelenggaraan MotoGP dari 2027 hingga 2031. Jadi kalau dirata-rata selama lima tahun, hosting fee tersebut berbiaya hingga Rp338 miliar.
Yang menarik skema penanggungan biaya akan berubah secara bertahap mulai musim balap 2027. Sepang International Circuit (SIC) selaku Pengelola Sirkuit Sepang akan menanggung 10 persen biaya pada 2027. Porsi tersebut akan meningkat hingga 50 persen pada 2031.
Kiat SIC Penuhi Kewajiban
Demi memenuhi kewajibannya, SIC berupaya mereview gelaran MotoGP Malaysia secara menyeluruh. Langkah strategis ini diambil untuk menyesuaikan lonjakan biaya operasional sirkuit. Selain itu, penyesuaian ini bertujuan mendukung pendanaan hak penyelenggaraan balapan di masa depan.
Kantor Berita Malaysia, Bernama menyebutkan SIC berkomitmen meningkatkan fasilitas penonton. Yang terpenting seperti layar raksasa, sistem tata suara, serta akses air minum menjadi prioritas utama.
Dan tak kalah utama adalah mengevaluasi harga tiket dan sewa track MotoGP. Kenaikan tarif sewa sirkuit dan tiket masuk menjadi poin utama dalam peninjauan tersebut.
Saat ini sewa sirkuit berkisar RM70.000 hingga RM80.000 per hari. Nilai tersebut setara dengan Rp259 juta hingga Rp296 juta.
Rencana Penyesuaian Tarif
Chief Executive Officer SIC, Azhan Shafriman Hanif, mengonfirmasi peninjauan ulang harga tersebut. Kenaikan biaya operasional menjadi alasan utama di balik rencana penyesuaian tarif ini.
“Semoga kami bisa meninjau harga dan memastikan kenaikan tidak terlalu memberatkan penggemar. Namun kami perlu meninjau harga karena biaya operasional kami telah meningkat,” ujar Azhan Shafriman.
Pihak sirkuit juga mengamati perubahan tren penonton di bawah manajemen baru, Liberty Media. Pendekatan baru diharapkan mampu menggaet penggemar anyar di luar penonton tradisional.
Penonton domestik saat ini mendominasi kehadiran sebesar 70 persen di sirkuit. Sementara penonton internasional menyumbang sekitar 20 hingga 30 persen. Wisatawan dari Indonesia, Thailand, dan Singapura menjadi penyumbang terbesar sebagai penonton asing.
SIC menargetkan komposisi seimbang antara penonton lokal dan internasional dalam lima tahun ke depan. Kerja sama erat dengan Tourism Malaysia terus dipacu untuk menarik wisatawan mancanegara.
Rencana jangka panjang pengelola mencakup pengembangan kawasan di sekitar sirkuit. Pembangunan hotel dan fasilitas penyimpanan kendaraan disiapkan untuk menambah pendapatan komersial. Langkah ini diharapkan mampu menjaga kelangsungan bisnis sirkuit dalam jangka panjang.
Mandalika Bagaimana?
Bila MotoGP Sepang telah ada kepastian hosting fee dari Pemerintah Malaysia, sejauh ini untuk Mandalika masih menunggu perkembangan lebih lanjut. Menurut Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir, kelanjutan dan pembahasan hosting fee untuk MotoGP Mandalika periode 2027–2031 masih dalam tahap koordinasi dan menunggu keputusan akhir dari Presiden Prabowo Subianto.
Sebagai informasi, PT Pengembangan Pariwisata Indonesia atau InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) memaparkan dampak ekonomi MotoGP Mandalika 2026 melampaui Rp5 triliun. Yang didorong penjualan tiket dan akomodasi serta peningkatan dari Rp4,2 triliun pada 2024 menjadi Rp4,9 triliun pada 2025.
Intinya semoga Mandalika tetap menjadi kalender utama MotoGP di tahun berikutnya. (Dian Novianto)








