Otoplasa.com – Fabio Quartararo benar-benar berada di persimpangan karirnya. Akankah dia bertahan dengan loyalitas tinggi bersama Yamaha atau kesabarannya telah menipis untuk mendapatkan motor kompetitif. Mengingat statusnya sebagai mantan juara dunia dengan bayaran tertinggi.
Seperti diketahui pasar pembalap MotoGP untuk musim 2027 mulai memanas lebih awal, dan salah satu keputusan paling penting adalah pilihan Fabio Quartararo untuk bertahan atau hengkang dari Yamaha. Meski pabrikan Jepang itu jelas tak ingin kehilangan bintangnya, justru sang juara dunia MotoGP 2021 menghadapi pertaruhan yang lebih besar.
Dengan bursa transfer pembalap yang kini bergerak lebih cepat setiap tahun, Quartararo diperkirakan akan memutuskan dalam beberapa bulan ke depan apakah ia akan kembali mempercayai proyek Yamaha atau mencari peluang di pabrikan lain. Pilihan itu mungkin berarti menerima bayaran lebih rendah, tetapi dengan jaminan motor yang lebih kompetitif.

Loyalitas Tinggi, Tapi Kesabaran Menipis
Quartararo dikenal memiliki loyalitas tinggi. Yamaha-lah yang membawanya ke MotoGP pada 2019, menghidupkan kembali performa yang sempat meredup sejak ia menjadi juara CEV Spanyol pada 2013 dan 2014. Begitu menunggangi Yamaha YZR-M1, kilau talenta Quartararo kembali, bahkan ia dijuluki penerus Marc Marquez.
Sejak 2021, Quartararo menjadi pembalap pabrikan menggantikan Valentino Rossi dan langsung meraih gelar juara dunia. Ia sudah dua kali memperpanjang kontrak dengan Yamaha (2022 dan 2024), dan jika memperpanjang lagi, ia akan membela “Tim Biru” selama delapan musim penuh.
Namun, keputusan kali ini datang di tengah masa sulit. Yamaha sedang membangun ulang kekuatan, termasuk mengembangkan mesin V4 demi mengembalikan daya saing. Sementara Quartararo berada di persimpangan, bertaruh lagi pada janji Yamaha atau berani mengikuti jejak Marquez yang meninggalkan Honda demi tantangan baru di Gresini.
Faktor Kompetitif Lebih Penting daripada Uang
Berbeda dengan Marquez yang membuktikan dirinya masih bisa kompetitif, Quartararo tidak meragukan kemampuannya. Yang ia butuhkan hanyalah motor yang memungkinkannya kembali bersaing meraih kemenangan secara konsisten. Selama 2025 dan 2026, ia diperkirakan mengantongi total sekitar €20 juta (sekitar Rp350 miliar), menjadikannya pembalap dengan bayaran tertinggi di grid. Namun, faktor finansial bukan satu-satunya pertimbangan utama.
Yamaha disebut sudah tiga tahun menjanjikan pembaruan teknis dalam mempersiapkan motor yang kompetitif, sesuai dengan klausul kontrak dengan Quartararo. Hanya saja sebagian besar belum terealisasi. “Saya beri mereka kesempatan, tapi tidak akan ada yang kedua. Mereka menjanjikan banyak hal, tapi sembilan setengahnya tidak terlaksana,” kata Quartararo pada 2023.
Tantangan Jelang 2027
Situasi ini kian rumit karena Quartararo harus memutuskan masa depannya sebelum Yamaha benar-benar menunjukkan hasil nyata. Mesin V4 yang diharapkan belum mencapai performa penuh dan sampai saat ini belum pernah dicoba pembalap utama. Menurut penguji Yamaha, Augusto Fernandez, para insinyur Jepang “belum mau memaksimalkannya”.
Di saat yang sama, banyak pembalap top lain seperti Pedro Acosta dan Jorge Martin juga berpotensi pindah tim pada 2027. Beberapa pabrikan bahkan dikabarkan siap menawarkan pra-kontrak untuk mengamankan target mereka lebih awal.
Sejak terakhir menang pada 2022 dan finis runner-up di klasemen, Quartararo belum mampu memutus puasa kemenangan. Jika Yamaha ingin mempertahankannya, mereka harus memberikan bukti kebangkitan, entah lewat mesin V4 atau terobosan teknis lain, sebelum pembalap Prancis itu kehilangan kepercayaan. Mengingat di tahun ini telah mengoleksi empat kali pole position namun gagal mengkonversinya dengan kemenangan di podium. (boi)














